Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

WhatsApp dan 88 lainnya diakuisisi, Jejaring Sosial dunia dalam genggaman Facebook


PurwakartaOnline.com - WhatsApp baru saja dibeli oleh Facebook pada tanggal 14 Februari 2014 lalu dengan harga USD 19 Milliar. Berawal dari pembicaraan ringan antara Mark Zuckerberg dan Jan Koum di salah satu kedai kopi di daerah Los Altos, California. Dimulai sejak tahun 2012 hingga pada akhirnya mereka menjadi sahabat karib.

Seiring berjalannya waktu, pertemanan mereka bukan hanya sekedar teman biasa, pada akhirnya, bertepatan pada tanggal 9 Februari, Koum bertandang ke rumah Zuckerberg di Palo Alto, California. Saat itulah pembicaraan mulai mengarah pengakuisisian WhatsApp oleh Facebook.

Melalui proposal yang dibuat, Zuckerberg menawarkan pula untuk Koum masuk kedalam jajaran dewan Facebook, namun ia tidak menjawabnya saat itu juga. Akhirnya tanggal 14 Februari 2014 ia menyetujui pembelian WhatsApp oleh Facebook dengan harga USD 19 Milliar. Harga tersebut adalah akuisisi terbesar yang pernah dilakukan Facebook.

Jan Koum adalah CEO sekaligus Co-founder Whatsapp. Ia drop out dari Universitas San Jose dan akhirnya ia menjadi tukang bersih-bersih di sebuah supermarket. Setelah melalui masa sulit akhirnya ia bekerja di Yahoo bermodalkan keahliannya sebagai Programmer, ia menjadi engineer selama 10 tahun.

Disanalah ia berkenalan dengan Brian Acton sampai akhirnya mereka berdua memutuskan untuk resign dan mendirikan WhatsApp pada tahun 2009. Sebelum ia memutuskan untuk mendirikan WhatsApp, ia sempat melamar ke Facebook dan Google, namun ia ditolak oleh dua perusahaan raksasa internet tersebut.

Latar belakang akuisisi WhatsApp


Ketika Mark Zuckerberg berkata ia ingin menghubungkan dunia kepada semua orang, itu bukanlah pernyataan humanis. Zuckerberg ingin memiliki semua lapisan komunikasi di seluruh belahan dunia yang kita tempati ini. Pengakuisisian WhatsApp senilai 16 miliar dolar lebih menjadi salah satu indikasinya.

Facebook tumbuh dan merubah cara manusia terhubung dan berbagi dengan orang-orang di sekitarnya, dan sekarang ia menjadi pemilik dari jejaring sosial milik privat yang bisa dikatakan terbesar di dunia. Diantara kedua perusahaan ini, kira-kira 1 miliar foto dan 30 miliar pesan terkirim setiap harinya.

Ambisi dari Zuckerberg yang berani membuat keputusan pengakuisisian ini kemudian menciptakan keuntungan bagi kedua perusahaan tersebut. Keuntungan perusahaan juga keuntungan bagi pribadinya masing-masing.

Di saat Facebook sibuk menciptakan alat yang dipakai 1,25 miliar orang, WhatsApp telah menggantikan alat esensial yang digunakan banyak orang, yaitu SMS. WhatsApp digunakan oleh lebih dari 450 juta orang setiap bulan, dan seringkali dapat mencapai tempat-tempat yang bahkan sulit dimasuki Facebook dan aplikasi pesan instannya (Facebook Massanger -red), seperti Spanyol dan Swiss.

Dengan mengisi ruangan kosong itu bersama WhatsApp, jalur komunikasi Facebook menjadi lebih besar dan lebih tersebar jauh lebih luas daripada sebelumnya. Perusahaan ini memimpin porsi luar biasa dari pesan dan foto yang dikirimkan orang tiap harinya. Jangan lupa bahwa pengguna Whatsapp juga mengirimkan 200 juta pesan suara setiap hari; angka yang sangat menakjubkan!

Untuk banyak orang, WhatsApp sepertinya juga telah menggantikan fungsi telepon tradisional. Ada indikasi bahwa Facebook ingin melebarkan sayapnya ke negara-negara yang belum bisa dimasuki oleh Facebook, melalui WhatsApp.

Terlihat seperti akuisisi biasa


Akuisisi terbaru Facebook ini mungkin terlihat seperti pengambil-alihan sederhana untuk aplikasi terpopuler di dunia, dengan beberapa efek samping yang menyenangkan, tetapi kenyataannya jauh lebih besar daripada itu. Tiap akuisisi yang dilakukan Facebook memunculkan batasan lain terhadap berbagai cara yang dapat dipilih orang untuk berbagi dan berkomunikasi secara privat maupun publik.

Instagram memungkinkan orang untuk berbagi foto dalam cara yang tidak dapat dilakukan model pertemanan Facebook. WhatsApp memberi kesempatan bagi orang untuk berbagi pesan dengan cara yang familiar dengan telepon lama dan pengguna ponsel pintar sesuatu yang selama ini tidak dapat dilakukan oleh Facebook.

Portofolio produk Facebook menjadi lebih luas, penuh dengan jasa dan aplikasi yang kompetitif, dan sebenarnya tidak ada masalah dengan hal tersebut. Tetapi ditenggarai Facebook memiliki tujuan lain dibalik pengakuisisiannya terhadap beberapa perusahaan yang telah ia akuisisi.

Di bawah bendera Facebook, seperti Instagram menjadikan servis yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut, hak intelektualnya kini ddimiliki oleh Facebook seutuhnya. Facebook sekarang layaknya seorang konglomerat seperti Disney, seperti kata seorang Penulis bernama Kara Swisher, Facebook memiliki semua merek terbaik dan melayani semua demografi secara simultan.

Langkah ambisius Facebook


Facebook berencana untuk menjalankan semuanya itu dan akan melakukan akuisisi lainnya di masa depan secara independen, dengan tujuan menjadi perusahaan jejaring sosial yang terbesar. Perusahaan ini tentunya tidak ingin bermain-main dengan formula yang sudah ada yang malah bisa berbalik membunuh, baik terhadap Instagram, WhatsApp, atau aplikasi komunikasi lainnya yang belum terjamah Facebook.

Akuisisi terhadap beberapa perusahaan telah menjadikan Facebook menjadi perusahaan konglomerat. Timbul pertanyaan, apakah Facebook berencana menjadi perusahaan yang global dan menjadikan sebuah raksasa di dunia maya? Atau apakah ini merupakan ambisi personal yang seperti dinyatakan di visi Zuckerberg? Atau memang hanya mencari keuntungan dan pengalihan hak kekayaan intelektualnya?

Tetapi Facebook tidak hanya memperkaya portfolio produk mereka, ia juga memperkaya model bisnis mereka. Facebook punya kesempatan untuk membuat WhatsApp menjadi gratis, seperti produk-produk lainnya, tapi tidak mengambil pilihan tersebut.

CEO WhatsApp Jan Koum berjanji bahwa servis mereka akan tetap bebas iklan dengan model pembayaran 1 dolar tiap tahunnya. Dengan bergabungnya Koum dalam direksi Facebook, mungkin saja perusahaan akan mengadopsi model revenue stream yang sama di masa depan.

Kesuksesan WhatsApp dengan model bisnis tersendiri ini membuktikan bahwa masih ada banyak ruang bernafas bagi penyedia jasa esensial untuk menjadi komersil tanpa iklan atau in-app purchases (pembelian di dalam aplikasi).

Apa tujuan Facebook akuisisi WhatsApp?


Apa maksud dan tujuan sebenarnya dari pengakuisisian dari facebook terhadap beberapa perusahaan karena tidak semua ciri khas atau produk yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan yang diakuisisi oleh Facebook digunakan dan diberi label facebook? Masih tidak jelas seberapa besar pengaruh Koum terhadap produk-produk Facebook di masa depan, tetapi dengan mengikutkannya dalam jajaran direksi, Facebook telah memperkaya proses berpikir mereka.

Slogan internal Facebook adalah gerak cepat dan hancurkan mereka, tetapi WhatsApp melakukan sebaliknya. Ketika para kompetitor, termasuk Facebook Messenger, menambah fitur-fitur, menghilangkannya, menghidupkan kemudian redup begitu saja, WhatsApp memegang teguh tujuan utama mereka: untuk menggantikan model berkirim pesan tradisional.

Dan seperti dinyatakan oleh Dan Frommer, kesempatan untuk menggantikan SMS masih sangat besar, SMS masih merupakan industri bernilai 100 miliar dolar per tahun dan WhatsApp adalah perusahaan dengan posisi terbaik untuk merebut kesempatan tersebut. Kalau saja WhatsApp meninggalkan tujuan awal mereka dan menciptakan platform untuk permainan, atau mengikuti tren aplikasi berbagi foto, mungkin WhatsApp tidak akan berada di posisinya sekarang ini.

Pertaruhan besar Facebook


Mempertaruhkan hampir sepersepuluh kapitalisasi pasar mereka pada sebuah aplikasi pesan adalah resiko besar bagi Facebook, tapi setidaknya Facebook meletakkan taruhannya pada satu-satunya aplikasi yang lebih sosial daripada dirinya sendiri. WhatsApp adalah aplikasi satu-satunya yang kami lihat punya tingkat keterikatan lebih tinggi daripada Facebook, kata Zuckerberg pada konferensi lewat telepon Jumat silam.

Mungkin itu adalah satu-satunya alasan Facebook mengakuisisi WhatsApp. Atau mungkin sebuah tanda dari sesuatu yang lebih besar: diversifikasi Facebook sebagai sebuah perusahaan. Paling tidak nilai ideal dan lingkup ambisi yang dipunyai Zuckerberg sejak awal dengan slogan menghubungkan dunia pada semua orang sekarang jelas terlihat.

Bagaimanapun cara berikutnya yang dipilih orang untuk terhubung dengan dunia, dapat dipastikan Zuckerberg berdiri tidak jauh dari sana, tersenyum lebar dengan dompet yang terbuka.

WhatsApp di tangan Facebook harus diawasi


Dua kelompok peduli privasi meminta Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) agar segera menyelidiki keamanan pivasi pengguna terkait pengakuisisian WhatsApp oleh Facebook senilai US$ 19 miliar. Mereka mengkhawatirkan, Facebook akan menjual data pengguna WhatsApp untuk kepentingan bisnis iklannya.

Ketika WhatsApp telah menunjukan komitmen yang kuat untuk privasi pengguna, layanan pesan Facebook saat ini mengumpulkan dan menyimpan hampir semua data pengguna Facebook yang tersedia, tulis Electronic Privacy Information Center (EPIC) dan the Center for Digital Democracy dalam laporannya ke FTC, seperti dilansir dari Computer World.

Selama ini, pihak WhatsApp memang telah berjanji untuk mempertahankan informasi pribadi penggunanya. Sehingga, banyak pengguna memilih WhatsApp lantaran pihaknya berani menjamin hal itu. Namun yang dikhawatirkan oleh kelompok peduli privasi tersebut ialah Facebook akan membuat WhatsApp melanggar janji tersebut karena urusan bisnis.

Jika FTC tidak memblokir akuisisi Facebook terhadap WhatsApp, maka setidaknya harus bisa melindungi pengguna aplikasi dari pengumpulan data Facebook, kata kelompok perlindungan privasi tersebut. Sementara itu, seorang juru bicara Facebook mengklaim, akuisisi tersebut tidak akan mengubah praktik perlindungan privasi yang dilakukan WhatsApp selama ini.

Seperti yang telah kami katakan berulang kali, WhatsApp akan beroperasi sebagai perusahaan yang terpisah dari Facebook dan akan menghormati komitmen untuk privasi dan keamanan, imbuhnya. Ada indikasi yang dicurigai beberapa kelompok yang peduli akan sebuah privasi jejaring sosial di dunia maya adalah bahwa Facebook akan menjual data-data privasi yang dimiliki oleh WhatsApp apabila Facebook membeli WhatsApp.

Pola penambahan fitur Facebook


Dari tahun ke tahun fitur Facebook juga terus bertambah. Fitur yang ditambahkan oleh Facebook tidak semuanya dibangun dari awal, namun didapatkan dari proses 'membeli' produk atau layanan dan 'memboyong' para pembuatnya ke Facebook.

Sampai saat ini, Facebook sudah membeli lebih dari 30 perusahaan di bidang IT untuk meningkatkan atau menambahkan fitur di Facebook. Dari 30-an perusahaan yang diambil alih (bahasa kerennya di akuisisi) ada lima perusahaan yang cukup mencolok terutama bagi pengguna internet.

Kasus pembelian Friendfeed

Friendfeed adalah layanan di internet yang menyatukan seluruh update dari teman-teman kita. Sebagai contoh anda punya teman namanya Ani dan Buny. Si Ani punya 3 blog, akun Twitter dan akun Flickr, Si Buny punya akun Facebook dan akun Twitter. Nah, anda ingin melihat seluruh update teman anda tersebut dari satu tempat, entah teman anda nge-tweet lah, posting artikel baru di blog, atau update status di Facebook, semuanya akan disajikan disatu tempat.

Aplikasi yang dimiliki Friendfeed ini dapat menyatukan seluruh update dari akun-akun jejaring sosial yang dimiliki oleh pengguna selain Facebook, seperti Twitter, Path dan lain-lain. Dan facebook berhasil dikarenakan aplikasi ini. Sayangnya sejak Facebook membeli Friendfeed, layanan ini sudah tidak dikembangkan lagi.

Di Facebook, tim Friendfeed hanya ditugaskan untuk membuat 'Realtime Search' dan 'Realtime Stream Update'. Sekarang Anda cukup mengetikan awalan nama teman Anda, facebook langsung menunjukkan hasilnya bukan? Nah itu kerja dari tim Friendfeed.

Kasus pembelian Snaptu

Snaptu adalah perusahaan yang membuat aplikasi mobile dengan nama yang sama. Dengan satu aplikasi ini, Anda bisa mengakses Twitter, Facebook, Newsfeed, Picassa, Flickr dan beberapa layanan sosial media lainnya.

Snaptu menjadi populer karena bisa berjalan di fitur handphone. Artinya anda tidak perlu beli smartphone mahal untuk mengakses layanannya. Sejak diambil alih oleh Facebook, Snaptu sudah tidak dikembangkan lagi dan servernya pun ditutup. Sekarang tim Snaptu bekerja untuk menangani Facebook Mobile.

Kasus pembelian Drop IO

Drop.io adalah layanan filesharing seperti Rapidshare atau Megaupload. Perbedaan mendasar dari layanan lain, untuk upload file Drop IO, user tidak perlu mendaftar. Saat ini drop.io sudah tidak aktif lagi. Sekarang, tim drop.io bekerja untuk membuat layanan upload file yang terintegrasi ke Facebook.

Hal yang paling nampak adalah di 'Message' dan file upload di Group. Anda bisa melampirkan sembarang file ke pesan yang akan anda kirim atau yang akan anda upload ke group Anda.

Kasus pembelian Gowalla

Gowalla adalah layanan jejaring sosial yang fokus ke 'check in'. Setiap user melakukan Check in, Gowalla akan memberikan 'Award'. Konsep award di jejaring sosial atau website sekarang sedang nge-trend dengan istilah gamifikasi.

Dulu, saingan Gowalla adalah Foursquare yang mempunyai fitur dasar yang sama. Sejak diambil alih Facebook, Gowalla sudah tidak bisa diakses lagi. Sekarang tim Gowalla menangani fitur 'check in' di Facebook.

Kasus pembelian Instagram

Instagram adalah jejaring sosial yang sifatnya ekslusif. Jejaring sosial hanya tersedia di iPhone dan Android. Instagram fokus ke berbagi gambar, namun berbeda dengan Flickr atau Picassa. Instagram menyediakan efek foto yang sangat mudah dipakai.

Saat ini, Instagram tetap menjadi produk terpisah dan belum nampak integrasinya dengan Facebook. Kemungkinan terbesar, fitur filter foto di Instagram akan di implementasikan di 'Foto Editor' di Facebook. Kita tunggu saja. Dibeli oleh Facebook seharga 1 milliar dollar atau 9 triliun rupiah pada tanggal 9 april 2012.

Selain nama-nama yang disebutkan di atas, merujuk laman Wikipedia, tercatat Facebook telah melakukan 89 kali akuisisi dan merger. Kesimpulannya, sejak Era Web 2.0 booming dan jejaring sosial dengan berbagai macam jenisnya muncul, intenet terlalu ramai. Saya senang ketika sebuah perusahaan IT memakan perusahaan yang lain.

Dengan seperti ini, maka internet tidak dipenuhi dengan berbagai layanan yang mirip dan user tidak perlu mengingat banyak akun. Kita tunggu saja gebrakan Facebook berikutnya. Kira kira siapa ya, yang mau dimakan?

Sumber:

  • https://www.google.com/amp/s/docplayer.info/amp/56727461-Kisah-dibalik-akuisisi-whatsaap-terhadap-facebook.html
  • https://x2zkom3ctwgbm5pgxgdqswjlfq-mkzbd4dzakkw2-en-m-wikipedia-org.translate.goog/wiki/List_of_mergers_and_acquisitions_by_Facebook

Berlangganan via Email