Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Bagaimana Kabupaten Purwakarta Membangun Persepsi Masyarakat Terhadap Keistimewaannya Sendiri

Purwakarta-online-kearifan-lokal-budaya-sunda

PurwakartaOnline.com - Persepsi masyarakat mengenai keadaan Kabupaten Purwakarta pada saat ini juga tidak terlepas dari gerak cepat pemerintahan setempat untuk membangun strategi agar masyarakat memberikan persepsi yang positif mengenai keberadaan Kabupaten Purwakarta saat ini.

Perbaikan infastruktur dan menciptakan slogan baru. Kabupaten kecil ini mengalami perubahan yang sangat drastis pada saat kepemimpinan Dedi Mulyadi. Situ Buleud yang semula menjadi tempat maksiat, kini di pagari. Bahkan saat ini, Situ Buleud telah menjadi Taman Air Mancur.

Wilayah Cilodong dibersihkan. Tata kota di rapihkan. Jalan-jalan di perbaiki, bahkan sampai pelayanan publik pun ia benahi menjadi lebih baik. Revolusi pembangunan di Purwakarta tidak bisa dianggap sepele. Keberanian inovasi Kang Dedi Mulyadi merubah wajah Purwakarta tak tanggung-tanggung, ia merupakan sosok yang sangat tergila-gila untuk membangun daerahnya menjadi lebih baik.

Kang Dedi menciptakan sebuah slogan baru yaitu “Purwakarta Istimewa” ternyata hal itu tidak hanya slogan berkala. Visi dan misi tersebut benar-benar terbukti digulirkan melalui terobosan termasuk tata kota yang semakin istimewa dengan banyaknya pertamanan dan jalanan semakin mulus.

Kabupaten kecil yang mengedepankan spirit budaya dalam pembanunan nya ini semakin tampak terlihat lebih indah dan tertata. tidak hanya disetiap sudut kota, penataan taman-taman indah itu pun di dibangun di beberapa area perkantoran, contohnya di area halaman Pemda sendiri.

Saat ini lokasi tersebut sudah seperti tempat wisata, karena semakin banyaknya orang-orang yang berkunjung dan memadati taman yang lokasinya persis di halaman Pemda tersebut. Taman tersebut bernama taman pancawarna dan maya datar.

Penataan kota merupakan salah satu komitmen Kang Dedi dalam membangun Purwakarta. Melalui ide dan gagasan Kang Dedi, pemerintah setempat berupaya memanfaatkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada untuk dihias agar bisa di jadikan tempat wisata atau supaya masyarakat Purwakarta memiliki tempat untuk bercengkerama bersama keluarga tanpa harus keluar daerah.

Selama lima tahun terakhir masa kepemimpinan Kang Dedi, banyak sejumlah wisata baru yang dikembangkan seperti Taman Air Mancur Sri Baduga, Pendakian Gunung Bongkok dan Gunung Lembu, Hotel Gantung di Gunung Parang, hingga Wisata Kaki Gunung Burangrang dan masih banyak lagi. Selain wisata Alam, hadir juga tempat wisata edukatif seperti Museum Diorama Purwakarta, Diorama Nusantara, Galeri Wayang dan Bale Indung Karahayuan.

“Sehingga kabupaten kecil ini menjadi kota yang pilihan wisatanya banyak dan lengkap, dari mulai wisata pendakian, bendungan, hingga wisata kuliner yang tentunya masih khas dengan budaya sunda yang masih diterapkan” Ujar Heri Anwar (26/02/2018, 15:20 WIBKhususnya masyarakat Purwakarta sendiri merasa tidak mempunyai masalah dengan keadaan Kabupaten Purwakarta pada saat ini yang masih melestarikan kearifan lokal budaya sunda. Apalagi semenjak masa kepemimpinan Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta periode 2008-2018) kearifan lokal budaya Sunda semakin di jungjung tinggi.

Masyarakat Purwakarta cenderung menerima tanpa adanya sebuah penolakan mengenai pelestarian kearifan lokal budaya sunda ini, baik itu dari segi pembangunan infastruktur, pariwisata, kuliner dan bahkan pendidikan. Meskipun masih ada sebagian orang dari luar daerah Purwakarta yang mempunyai persepsi yang negatif mengenai Purwakarta karena pengaruh dari beberapa tokoh yang berasumsi bahwa budaya itu identik dengan kemusyrikan, seperti contohnya semakin banyak patung-patung yang berdiri kokoh di beberapa sudut kota Purwakarta.

Pemkab setempat sering menegaskan, bahwa pembangunan patung-patung tersebut semata-mata merupakan seni untuk mempercantik kota. Ketika ada anggapan patung itu didirikan untuk disembah, Kang Dedi dan Pemkab setempat menilai itu sangat keliru.

Patung-patung tersebut didirikan untuk kebahagiaan masyarakat pula. Bisa digunakan pula untuk berfoto dan menambah pengetahuan mengenai nama-nama dan jenis patung yang dibuat, yang kebanyakan merupakan sosok-sosok wayang budaya sunda. Masyarakat lokal maupun mancanegara banyak memberikan respon atau persepsi yang positif mengenai sektor pariwisata, semakin hari kunjungan wisatawan ke Purwakarta semakin banyak, apalagi wsiata Taman Air Mancur Sri Baduga yang setiap malam minggu semakin membludak.

Tujuan pertama yang ada dalam penelitian ini adalah ingin mengetahui bagaimana pembentukan citra budaya Sunda di Kabupaten Purwakarta. Menurut Soemirat dan Ardianto (2002:114) unsur pembentukan citra itu sendiri adalah adanya persepsi, kognisi, motivasi dan sikap.

Pencitraan tidak melulu dimiliki dan dijalankan oleh seorang Public Relations atau humas, melainkan juga dapat diaplikasikan di instansi pemerintahan dalam fungsinya yaitu sebagai penyedia pelayanan publik yang perlu mengedepankan aspek citra agar dinilai baik. Konsumen dalam instansi pemerintahan adalah masyarakat dan pihak swasta.

Pemerintah berfungsi untuk mengayomi dan memberikan pelayanan terhadap masyarakat agar terciptanya reputasi yang baik. Citra merupakan serangkaian pengetahuan yang berlandaskan terhadap pengalaman, perasaan atau emosi dan penilaian yang sudah di organisasikan dalam sistem kognisi manusia yang diyakini atas kebenarannya.

Citra itu sendiri terbentuk dari struktur kognisi manusia (Sudjana & Rivai, 2009:2) Menggagas pencitraan sebuah kota atau kabupaten bisa dilakukan dengan berbagai hal. Salah satunya yaitu melestarikan kearifan lokal. Kearifan lokal ditunjuk merupakan sesuatu yang baik yang masih diyakini dengan masyarakat setempat. Hal ini sejalan dengan konsep yang digunakan oleh peneliti.

Kabupaten Purwakarta merupakan sebuah daerah di Jawa Barat yang masih melestarikan Budaya Sunda. Hal ini terlihat dari gerak cepat Pemerintahan Kabupaten Purwakarta yang berhasil menata tata kota, menata destinasi sampai kuliner dengan masih mengedepankan Budaya Sunda.

Budaya Sunda merupakan budaya yang dianut oleh masyarakat Purwakarta. Pelestarian kearifan lokal oleh pemkab Purwakarta melalui ide dan gagasan Kang Dedi ini adalah untuk menjembatani adanya pengaruh budaya luar yang sudah banyak masuk ke Indonesia.

Ayat (1986:40-41) mengemukakan bahwa fungsi kearifan lokal adalah sebagai filter dan pengendali terhadap budaya asing, mengakomodasi unsur-unsur budaya luar, mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli dan memberi arah pada perkembangan budaya.

Pola kehidupan masyarakat Kabupaten Purwakarta di dominasi oleh kultur Budaya Sunda. Namun sejalan dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, Masyarakat Purwakarta kini banyak dipengaruhi oleh budaya asing yang masuk karena derasnya arus globalisasi.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Bupati dan Pemerintah setempat agar masyarakat di Purwakarta tidak terbawa arus globalisasi. Contohnya dengan pelestarian kearifan lokal yang berbasis budaya sunda.

Purwakarta memiliki karakter tersendiri, yaitu sebagai orang yang berbudaya Sunda dan sarat akan nilai-nilai. Pelestarian kearifan lokal berbasis budaya sunda dilakukan dengan tujuan utama yaitu menjaga warisan para leluhur, dengan adanya pelestarian yang diterapkan diharapkan agar Kabupaten Purwakarta tetap menjaga karakternya sebagai budaya sunda. (*)

*Baca selengkapnya di Jurnal berjudul 'Upaya Pemerintah dalam Membentuk Citra Purwakarta Melalui Kearifan Lokal'. Ditulis oleh Yunia Gustini, Irfan Sanusi, Khoiruddin Muchtar dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung. Tahun 2018.

Berlangganan via Email