Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Festival Hortikultura, Camat Kiarapedes sumringah. Raih 3 dari 5 penghargaan Petani Muda

penghargaan-petani-milenial-purwakarta-2020
Camat Kiarapedes, H. Diaudin (kiri) bersama pemenang Penghargaan Petani Milenial, Ananda Dwi Septian

PurwakartaOnline.com - Bagi Camat Kiarapedes, Drs. H. Diaudin, M.Si., Festival Hortikultura yang digelar hari ini (Jumat, 18/12/2020) di Kebon Ambu, Desa Parakan Garokgek, Kecamatan Kiarapedes benar-benar sangat berarti.

Karena dalam Festival Hortikultura ini, tiga warganya dianugerahi Penghargaan. Sedangkan jumlah penghargaan keseluruhan adalah lima.

Penghargaan tersebut merupakan apresiasi bagi pemuda dan pemudi yang telah berkreasi di bidang pertanian dan memiliki dampak besar bagi masyarakat.

"Alhamdulillah, 3 petani muda kami, warga Kecamatan Kiarapedes mendapat penghargaan," ungkap Diaudin.

Ditanya mengenai ketiga petani muda tersebut, Diaudin mengungkap karakter mereka secara umum.
Pemenang Penghargaan Petani Milenial asal Kiarapedes. Dari kiri: Ananda Dwi Septian, Wulan Astuti dan Enjang Sugianto.

"Sejauh yang saya tahu, anak-anak itu (petani muda), punya ambisi diluar orang-orang kebanyakan. Saya sering ngobrol dengan mereka," ungkap Diaudin.

Festival Hortikultura


Menurut H. Diaudin, festival ini bisa menjadi rujukan, bagaimana bertani hortikultura bisa dilakukan dalam skala kecil, dengan lahan yang sempit seperti pekarangan rumah.

"Pekarangan, spot-spot kecil di sekeliling rumah, biasanya tidak begitu dimanfaatkan," ujar Diaudin.

"Dalam festival hortikultura ini, kita bisa lihat sama-sama. Caranya mengoptimalkan lahan-lahan terbatas itu. Contohnya semua ada di sini (Kebon Ambu)," lanjut Diaudin.

H. Diaudin berpendapat, kebutuhan pangan, kesehatan dan ekonomi keluarga bisa dipenuhi dengan sistem yang ada di kebon ambu.

"Komposisi tanamannya jelas bisa diperhitungkan sesuai kebutuhan pangan keluarga kita. Mau buah-buahannya apa, sayurnya mau tanam apa. Kemudian sebagai estetika, mau tanam bunga apa, disini semua ada contohnya," kata Diaudin.

Kebun Ambu, menurut Diaudin adalah rujukan bagaimana aspek ekonomi dan kesehatan bisa dicapai sekaligus.

"Tinggal kita hitung, harus tanam apa saja sebagai asupan pangan keluarga. Berapa pohon butuhnya, begitu kan? Secara ekonomi, tentu akan bisa dihitung sebagai penghematan. Secara kesehatan juga masuk. Tinggal dipilih komposisi tanamannya saja," pungkas Diaudin. (bdr)

Berlangganan via Email