Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

HIKMAH Cipulus akan laksanakan Bahtsul Masail di Wisata Ujung Aspal, 6 Desember 2020

PurwakartaOnline.com - Himpunan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah, Cipulus, Wanayasa yang dikenal dengan nama HIKMAH akan melaksanakan Syahriahan di Ujung Aspal atau Wisata Hutan Pasir Langlang Panyawangan, Desa Pusakamulya, Kiarapedes, Purwakarta pada hari Ahad, tanggal 6 Desember 2020.

Koordinator HIKMAH Kecamatan Kiarapedes, Ustad Dadang Saputra menyatakan jika dalam syahriahan kali ini, HIKMAH akan melaksanakan juga Bahtsul Masail yang akan diikuti para Ulama berbagai disiplin yang ada di Kabupaten Purwakarta.

"Peserta syahriahan ada 70 orang, termasuk yang nanti akan melaksanakan bahtsul masail," ungkap Ustad Dadang Saputra kepada Purwakarta Online (Sabtu, 14/11/2020).

"Bahtsul masail dari Purwakarta semua," lanjut Ustad Dadang.

KRPH Menyambut baik Syahriahan dan Bahtsul Masail

Uniknya syahriahan dan bahtsul masail kali adalah lokasinya penyelenggaraannya di Wisata Hutan Pasir Langlang Panyawangan (Ujung Aspal), Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes. Biasanya Bahtsul Masail diselenggarakan di dalam ruangan, karena para peserta membawa banyak kitab-kitab rujukan.

Hari Sabtu kemarin (14/11/2020), Korcam HIKMAH serta Ketua PAC GP Ansor Kiarapedes menemui Kepala RPH Wanayasa, Usep Herawan di Rumah Kopi dan Teh, Ujung Aspal. Usep Herawan selanjutnya menganjurkan agar membuat surat rekomendasi yang ditujukan panitia acara kepada Administratur KPH Perum Perhutani Bandung Utara.

"Agar dibuat surat, kepada ADM (Administratur) KPH, Untuk acara tanggal 6 (Desember 2020) nanti. Kalau Aula, hubungi Pak Wawan," ujar Usep Herawan (14/11/2020).

Wisata tidak identik dengan hedonisme

Ketua Pengelola Wisata Ujung Aspal, yakni LMDH Giri Pusaka, Asep Rahmat Saleh Setiaji, SH., alias Za'enx yang juga merupakan santri jebolan Parakanceuri dan Cibulakan ini juga sama-sama menyambut baik acara Syahriahan dan Bahtsul Masail.

Menurut pria flamboyan yang kerap dijuluki Presiden Kampung Atas ini wisata tidak identik dengan hedonisme. Sebaliknya wisata yang ada di Kabupaten Purwakarta rata-rata sangat menjungjung tinggi khazanah budaya setempat.

"Silakan kalau Anda sebut wisata di daerah lain itu tempat hura-hura, mabuk-mabukan atau apa. Di Purwakarta ini saya kira semua tidak meninggalkan akar budaya lokal," ucap Zaenx (14/11/2020).

"Kemajuan wisata Purwakarta saya lihat, seiring-sejalan dengan nilai relijius masyarakatnya. Kami dukung kegiatan ilmiah keagamaan (Bahtsul Masail), itu pasti," lanjut Zaenx.

Bahtsul Masail pertama

Bahtsul masail ini merupakan yang pertama kalinya difasilitasi penyelenggaraannya oleh HIKMAH. Beberapa masalah aktual di masyarakat akan menjadi objek pembahasan, namun Ustad Dadang menuturkan tidak menargetkan jumlah poin permasalahan akan dibahas seluruhnya.

"Waktunya pagi hingga siang, dzuhur selesai. Berapa jumlah poin pembahasan tidak ditarget, disesuaikan waktu saja," ujar Ustad Dadang.

Selain para alumni Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyah, Cipulus penyelenggaraan syahriahan akan dibantu oleh GP Ansor. Disampaikan Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Kiarapedes, Saepuloh, GP Ansor dan Banser siap membantu terlaksananya kegiatan.

"Kehormatan besar, Kecamatan Kiarapedes jadi tuan rumah syahriahan HIKMAH, apalagi para Ulama nanti akan melaksanakan Bahtsul Masail. Kami (PAC GP Ansor) berkewajiban membantu, personil Banser akan kami siapkan juga," ungkap Saepuloh (Sabtu, 14/11/2020).

6 Keunikan Bahtsul Masail


1. Khazanah ilmiah di lingkungan NU


Dilansir dari NU Online, Bahtsul Masail merupakan sebuah forum diskusi antar ahli keilmuan Islam -utamanya fikih- di lingkungan pesantren-pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU).

Di forum ini, berbagai macam persoalan keagamaan yang belum ada hukumnya, belum dibahas ulama terdahulu, dibahas secara mendalam.

"Bahtsul masail menurut Kiai Sahal Mahfudh adalah ganti dari istilah istinbath dan ijtihad di lingkungan NU,” kata A Khoirul Anam saat mengisi acar diskusi di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC) di Tangerang Selatan, Sabtu (5/5).

Mengutip pendapat KH Sahal Mahfudh, Anam menyebutkan bahwa bahtsul masail tidak berbeda dengan istinbath (pengambilan hukum) atau ijtihad. Karena kedua istilah tersebut cenderung “wah” di lingkungan pesantren NU, maka kemudian digunakan istilah bahstul masail.

“Lingkungan NU Tidak berani memakai istilah itu (istinbath atau ijtihad), maka dibuatlah istilah bahtsul masail,’ jelasnya.


2. Berkonsep Jama'i (forum)


Konsep bersama-sama atau jama’i, forum bahtsul masail yang diselenggarakan di lingkungan NU pasti melibatkan banyak orang dari berbagai macam disiplin ilmu seperti fiqih, ushul fiqih, hadist, dan lainnya. Di sini, sebuah persoalan dilihat dan ditinjau secara komprehensif.

“Di pesantren, penetapan hukum Islam tidak ditentukan pribadi, tapi bareng-bareng,” jelasnya.

3. Tidak mengutip langsung Al-Qur’an dan hadist


Anam mengatakan, adalah sesuatu yang berbahaya kalau merujuk langsung kepada Al-Qur’an. Mengapa? Al-Qur’an itu memiliki makna dan tafsiran yang banyak sekali. Kalau langsung mengutip Al-Qur’an, maka dikhawatirkan akan merujuk arti yang satu yaitu arti terjemahan.

4. Mengutip pendapat ulama secara qouliyah


Di forum-forum bahtsul masail, para peserta seringkali merujuk kepada pendapat ulama terdahulu dalam menyikapi sebuah masalah. Biasanya mereka ‘menarik pendapat terdahulu dengan persoalan yang sedang terjadi saat ini.

“Bagi kelompok nyinyir. Mereka dianggap tidak kreatif karena hanya mengutip ulama terdahulu,” katanya.

“Sebetulnya bahtsul masail itu ilmiah. Di kajian-kajian akademik, ada kajian studi terdahulu. Begitu pun bahtsul masail. Itu sah dan ilmiah dalam dunia akademis,” tambahnya.

5. Selalu mengutip teks berbahasa arab


Bagi Anam, ini adalah sesuatu yang problematis karena yang dikutip dalam bahtsul masail hanya kitab-kitab yang berbahasa Arab. Sedangkan, banyak kiai dan ulama NU yang menulis dalam bahasa Indonesia dan pegon.

Namun karena karya tersebut ditulis di luar bahasa Arab, maka tidak dikutip. Padahal isinya tidak kalah dengan yang berbahasa Arab. Bahkan bisa saja lebih berisi.

“Tulisan-tulisan Kiai Sahal Mahfudh dan Gus Mus yang berbahasa Indonesia tidak akan ditulis di bahtsul masail,” ujar kandidat doktor UIN Jakarta ini.

6. Tidak ada anggota tetap


Para anggota yang bersidang di sebuah forum bahtsul masail tidak lah tetap. Biasanya mereka berganti-ganti. Namun yang pasti, anggota yang ikut bersidang dalam bahtsul masail memiliki kecakapan dalam bidang keilmuan Islam.

Di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memang ada Lembaga Bahtsul Masail, namun mereka hanya bertugas sebagai panitia penyelenggara. Sedangkan pesertanya terdiri dari kiai-kiai di seluruh pesantren NU. (ezs)

Baca Juga:


Post a comment for "HIKMAH Cipulus akan laksanakan Bahtsul Masail di Wisata Ujung Aspal, 6 Desember 2020 "

Berlangganan via Email