-->

Wednesday, August 12

SYUKRON YA CAREUH

SYUKRON YA CAREUH

Oleh: Hasan Sidik, SE

Relasi sosial kemanusiaan kita mudah terpolarisasi oleh wacana-wacana dan sentimen firqoh. 

Sedikit saja ada suntikan yang menyinggung sakralitas cara pandang kita, maka kacau balaulah relasi humanitas kita.

Padahal, sesama manusia memiliki instrumen sofware yang sama. 

Namun sulit dalam praksisnya menemukan titik ekuilibrium dalam rangka saling menghargai, setidaknya. 

Apa lagi lebih dalam untuk bicara level saling mencintai. 

Di titik sesama jenis makhluk saja sulit, apa lagi lintas makhluk? Ini problem mendasar kemanusiaan kita saat ini.

Padahal, di samping kita, banyak jenis makhluk Tuhan yang harus kita bangun jembatan komunikatifnya dengan mereka. 

Umpama dengan hewan, pohon, rumput, ayam, ternak, careuh, dan seluruh makhluk Tuhan lainnya.

Padahal, pada saat yang sama, sesungguhnya kita membutuhkan relasi kemanusiaan dan kehewanan, sebab secara tidak sadar, kita makhluk yang saling membutuhkan, saling memberi manfaat.

Contoh kecil careuh. Hewan yang sering berkeliaran di malam hari ini adalah satu-satunya petani dari kalangan bangsa hewan. 

Tiap saat ia menanam pohon enau. Biji kolang-kaling yang ia buang tumbuh menjadi pohon enau. 

Dari pohon enau inilah petani dari bangsa manusia nyadap, mengekploitasi air nira, yang kemudian ditaheur menjadi gula dan kukurud. 

Sungguh jasa yang tak terkira dari seekor careuh.

Andai tidak ada sakadang careuh, siapa yang sudi menanam pohon kawung? 

Tidak ada. Pada kesadaran inilah sesungguhnya kita harus mendekonstruksi cara fikir, cara nalar, dan idiologi humanisme kita. 

Bahwa sebagai manusia yang berakal, semestinya kita harus menjadi pionir dalam membangun relasi dengan alam dan bangsa binatang atau makhluk lainnya.

Jika tidak, apa bedanya kita dengan hewan? Bahkan derajatnya lebih rendah. Bal adhollu.

Sekalipun dalam ilmu mantiq, alhayawanu natiq, manusia adalah hewan yang mampu berbicara.

Maka, mari bertaubat. 
Banyak bersyukur, termasuk kepada Careuh. 

Nuhun Careuh, syukron jazilan..


Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2020 Purwakarta Online | All Right Reserved