Biaya TPA naik, inilah cara BUMDes Maju Jaya kurangi beban iuran sampah warga

Tuesday, June 30

Direktur BUMDes Maju Jaya, Jodi M. Perniawan (kiri) sedang bercengkrama bersama PLD, Enjang Sugianto dengan latar tumpukan limbah siap angkut. BUMDes Maju Jaya berusaha kurangi beban iuran sampah warga (29/6/2020)

Dukungan masyarakat desa terhadap pengelolaan sampah oleh BUMDes Maju Jaya meningkat. Hal ini bisa dilihat dari terus bertambahnya jumlah warga desa yang menjadi peserta

PurwakartaOnline.com - Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Maju Jaya kembali membuat inovasi yang bermanfaat bagi warga Desa Taringgul Tonggoh, Wanayasa.

Inovasi tersebut merupakan pengembangan dari Unit Usaha Pengelolaan Sampah yang mulai masuk sebagai unit usaha BUMDes sejak Januari 2020.

Warga Desa Taringgul Tonggoh yang masuk peserta Unit Usaha Pengelolaan Sampah bisa menjual limbahnya kepada BUMDes Maju Jaya.

Limbah rumah tangga berupa sampah non-organik yang telah dipilah oleh warga, kemudian dijual kepada BUMDes dengan harga tertentu.

Limbah rumah tangga yang saat ini diterima diantaranya adalah sampah dari bahan besi, botol utuh, plastik dan kertas.

Hari ini (Senin, 29/6/2020) adalah penjualan pertama limbah rumah tangga dari BUMDes kepada pengepul limbah setempat.

Hanya dalam waktu dua minggu, sebanyak 7 kuintal limbah terkumpul. Dibeli dari warga desa melalui petugas pengelola sampah di wilayah RT masing-masing.


Kenaikan biaya di TPA

Menurut Direktur BUMDes Maju Jaya, Jodi Muhammad Perniawan biasanya seluruh sampah dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Cikolotok, Kecamatan Pasawahan.

Namun sejak bulan Januari tahun 2020 ini terdapat kenaikan biaya TPA, sehingga berimbas pada beban iuran yang harus dibayarkan oleh warga.

Munculnya inovasi ini bertujuan untuk mengimbangi kenaikan biaya yang harus dibayarkan oleh warga tersebut.

"Sejak januari biaya ke TPA naik, jadi naik juga ke warganya. Kita cari solusi, diskusi dengan Pemdes (Pemerintah Desa)," jelas Jodi.

"Kang Beko (Tatang/Kaur Keuangan Desa Taringgul Tonggoh) sarankan ke kita biar warga pisahkan sampahnya sendiri di rumah, agar sebagian bisa dibeli BUMDes," ungkap Jodi.

"Hasil jual sampah (yang dijual) bisa mengurangi beban iuran," lanjut Jodi.


Berorientasi kebutuhan warga

Menurut Pendamping Lokal Desa (PLD) setempat, Enjang Sugianto BUMDes Maju Jaya mampu melihat potensi di desa.

Selanjutnya, PLD juga menggaris-bawahi adanya kebersamaan seluruh elemen masyarakat di desa dalam mewujudkan kegiatan positif.

"Warga desa sangat kuat kebersamaannya. Mau kompetisi sepakbola, mau urusan apa? Di Tartong (Taringgul Tonggoh) bisa berjalan," ujar Enjang.

PLD mengakui dirinya sempat ragu dengan keputusan BUMDes untuk memasukan pengelolaan sampah menjadi unit usaha.

Namun akhirnya terbukti, BUMDes mampu menjaga arus kas sehingga biaya operasional bisa diatasi.

"Tapi itu yang buat kita salut. Pengelolaan sampah adalah solusi strategis yang memang dibutuhkan oleh masyarakat desa, meskipun keuntungan utamanya bukan dalam bentuk materi," terang PLD.

"Terbukti sekarang masa corona, saat semuanya gencar kampanye hidup bersih-sehat, warga Desa Tartong sudah berjalan tata kelola sampahnya sendiri," lanjut Enjang.

Keberadaan BUMDes Maju Jaya dengan unit usahanya dinilai sinergis dengan usaha warga yang sudah terlebih dulu ada.

"Jual pun ke pengepul limbah setempat, Pak Ndut, ini juga luar biasa. Tidak mematikan usaha yang ada di desa," pungkas Enjang.


Kepercayaan warga meningkat

Dukungan masyarakat desa terhadap pengelolaan sampah oleh BUMDes Maju Jaya meningkat. Hal ini bisa dilihat dari terus bertambahnya jumlah warga desa yang menjadi peserta, dihitung per suhunan (rumah).

Terhitung sebanyak 413 suhunan di Bulan Januari 2020, bertambah terus setiap bulan menjadi 489 suhunan di Bulan Mei 2020 kemarin.

Terdapat penambahan peserta sebanyak 76 suhunan atau 18,4 % dalam kurun waktu hanya 4 bulan. (enjs)
Next article Next Post
Previous article Previous Post