Oleh: Yudhistira Adi Maulana

Saya ingin sedikit curhat seperti acaranya Mama dedeh ya. Mamah dan AA curhat dong mah!... tapi disini saya tidak akan membahas acaranya mamah Dedeh yang cukup populer itu.

Disini saya ingin berbagi pengalaman melalui tulisan ringan, tapi bukan makanan ringan. Dari tahun 2017 saya melakukan kegiatan kemanusiaan melalui komunitas sedekah rame-rame.

Komunitas ini tidak hanya terjun melalui kegiatan berbagi nasi bungkus, tapi ada kawan kami yang turun ke lokasi-lokasi bencana alam.

Agenda ini terinspirasi dari kawan-kawan kami yang sudah lebih dahulu melakukannya dan selalu diposting di media sosial, sebagai bahan laporan kegiatan kepada rakyat, sempat bahwa acara yang dilakukan sudah berjalan lancar.

Inilah manfaat dan kegunaan media sosial, ia bisa memberikan pengaruh dan menjadi gagasan kepada orang lain yang melihatnya, agar tergerak untuk melakukan kegiatan yang sama di lokasi kotanya masing-masing.

Jadi, kalau orang sehat melihat postingan kegiatan sosial lalu otak dan hatinya bersinergi untuk melakukan kegiatan yang sama sedangkan, bila orang sakit akan memberi label kelompok atau orang yang melakukan kegiatan tersebut dengan label ria, tidak ikhlas dan menyakiti orang miskin.

Kadang logika berfikir seperti ini tidak begitu saya pahami, tapi ya sudahlah tidak usah dibahas panjang-panjang. Loh... tapi sudah setengah saya bahas hehehehe... tapi ada manfaatnya kan, daripada membahas nama-nama ikan?

Dari tahun 2017 ke tahun 2020, berarti 4 tahun, betul ya? Kita banyak bertemu dan berteman dengan saudara-saudara tunawisma, Amang Becak, Amang Tukang Parkir, Pemulung, Orang Gila. Kalau dalam bahasa ilmu ekonominya disebut kaum proletar, bila dalam bahasa agamanya disebut Mustadh'afin, saya sedikit terangkan ya.

MUSTADH'AFIN berasal dari Bahasa Arab, dari akar kata dha'afa-yadh'ifu berarti lemah, tidak berdaya dan tidak mampu. Mereka bukan berarti tidak bekerja, bahkan mungkin berkeringat, tetapi nasib mereka tetap terpinggirkan di dalam masyarakat.

Mungkin karena mereka tidak punya keterampilan, penyandang cacat dan atau menderita penyakit tertentu, atau ada sebab lain yang membuat mereka jatuh miskin dan tidak berdaya. 

Yang pasti bahwa mustadh’afin kelompok masyarakat yang terpinggirkan karena ada faktor internal dan eksternal dirinya. Kelompok ini jelas bukan hanya tanggung jawab negara atau pemerintah, tetapi semua pihak harus bertanggung jawab untuk mengeliminir kelompok ini.

Bisa dipahami ya? Sebelum musim berita virus Corona merebak di media, orang-orang yang hidup di jalan ini memang betul-betul di jalan. Ada yang hidupnya di gerobak tempat ia mengumpulkan barang hasil ia mulung, ada yang hidupnya di pinggir ruko, ada yang tinggalnya di becak, penghasilan tidak jelas, apalagi makan sehari 3 kali belum tentu bisa.

Tangannya selalu kotor, bukan kotor karena uang korupsi seperti yang dilakukan koruptor, tetapi kotor karena sering memungut sampah-sampah plastik, apakah badannya bersih? Ow... tentu tidak, mandi pun tak teratur jadwalnya.

Kenapa enggak teratur? Ya rumah juga tidak punya apalagi kamar mandi, tempat tidur, meja makan, kulkas. Lalu kurang lebih sebulan ini mulai merebak berita di media tentang virus Corona.

Untuk antisipasi, pemerintah menganjurkan masyarakat untuk tinggal di rumah jangan kemana-mana, tidak lupa cuci tangan sebelum masuk rumah, makan makanan bernutrisi, serta jaga jarak alias tidak boleh berkerumun.

Selaku orang awam saya banyak melahirkan pertanyaan seperti ini, kalau secara teori bahwa yang terkena virus Corona itu orang-orang yang hidup di pinggir jalan, yang tidak jelas makannya dengan apa, selalu bergelut dengan tempat sampah, tidurnya di pinggir jalan, cuci tangan apalagi.

Kenyataannya yang terkena virus Corona ini adalah pejabat daerah, Menteri, orang kaya. Bahkan yang lebih mencengangkan adalah berita tanggal 31 Maret 2020 di liputan6.com, bahwa Pangeran Charles positif terkena virus Corona.

Otak saya terus berfikir, kenapa orang orang yang hidupnya terjamin bersih, nutrisinya terpenuhi, pakaiannya bersih, kesehatannya terkontrol dengan rutin. Kenapa justru lebih dahulu dan rentan terkena virus Corona?

Tulisan singkat ini bukan pernyataan, tapi ini sebuah pertanyaan besar dari rakyat jelata seperti saya. Bisa jadi disini ada ruang rahasia besar wilayahnya Allah Azzawajalla untuk mengatur penyakit ini dialamatkan kepada siapa.

Dan bila Allah berkehendak tidak harus pakai teori sebab-akibat. Bila terjadi maka terjadilah dan disitu akan banyak triliunan pelajaran yang bisa kita ambil.

Mungkin bagi sahabat-sahabat yang suka menulis maka pelajaran dari maraknya berita Corona ini bisa menjadi sebuah tulisan bahkan bisa jadi sebuah buku. 

Disini saya mengajak teman-teman untuk berfikir mendalam, merenung mendalam dan Insya Alloh akan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam tulisan ini.

Udah segitu dulu saja pengalaman yang saya tulis semoga bermanfaat, bila dirasakan tidak bermanfaat mohon ma'af sudah menghabiskan pulsa temen-temen hehehehe....kalau pulsanya habis silakan kirim biodata temen-temen ke saya ya! Bukan mau diganti lah, apalagi dikasih hadiah sepeda.

Suported By #GerakanShodaqohRameRame

Saya, Yudhistira Adi Maulana
Aktifis Kemanusian

_________
Warta Warga

Penulis adalah pengusaha, penulis, terapis dan pembicara di Purwakarta. Owner dari beberapa bisnis diantaranya:

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post