16 April 2020

Hasan Sidik anen ikan

Oleh: Hasan Sidik, SE.,

Metode memulai wirausaha itu bisa dua cara, pertama direncanakan dengan matang, serius, sebagaimana petuah Terry si ahli manajemen itu.

Kedua, bisa iseng-iseng, asal coba, yang penting start, yang penting action. Sebab kata Bob Sadino, bisnis bagus itu ialah bisnis yang dimulai.

Saya lebih klop dengan metode yang kedua, termasuk saat memulai ternak ikan nila.

Selain berdasarkan mood dan instuisi, kadang ide itu datangnya tiba-tiba. Kalau tidak disalurkan, berbahaya.

Maka, saat ide datang, langsung saya aplikasikan.

Bersentuhan dengan ikan bukan kali pertama memang. Tahun 2005, saat saya masih duduk di bangku kuliah semester akhir, saya bawa program pelatihan perikanan dari BLK Purwakarta.

Saya ajak pemuda kampung, 16 orang, untuk trainning dan praktek 1-3 bulan.

Setengah tahun balik dari kampus, saya cek kelompok usaha ikan kami. Induknya habis semua. Hehe...

Mungkin itu akibat manajemen warungan. Tapi dari sinilah saya belajar. Manajemen itu penting.

Lalu, kali kedua saya ternak lagi. Akhir 2016 kemarin. Tidak ada planning memang, lagi-lagi seperti metode usaha yang saya praktekkan.

Awalnya saya ditantang oleh senior saya, ada saung, ada empang, lalu apa bisa menghasilkan?

Saya puter otak. Saya analisis. Hehe... Yang ini rada mikir dulu. Pasalnya lokasi usaha dianggap rawan.

Lalu saya tentukan: Ternak Ikan nila nirwana. Pembesaran. Saya lahaula saja. Sekalipun para tetangga banyak yang mencibir.

Mereka bilang pasti habis. Sama hama. Termasuk hama gede hulu na. Haha...

Singkatnya, saya ternak Nila, bibitnya 40 liter. Yang 30 liter disimpan di empang besar, yang 10 liter di kolam terpisah.

Baru saja ikan itu berumur 2 bulan, penjaga kolam ingin panen. Perkembangan ikan ini lumayan pesat memang.

Selama dua bulan saya habis 2 kwintal pakan. Jika diuangkan, senilai 1,6 juta.

Sebelum panen, saya tanya kawan penjaga kolam, apa alasan panen lebih awal? Kan baru dua bulan?

Selidik punya selidik, si kawan ini terhasut tetangga. Ikannya sedikit. Bakal rugi. Jadi dia penasaran. Haha... Maklum, mental kawan saya ini bukan wirausaha.

Lalu saya amini. Pembeli sudah siap memanen ikan. Tetangga sudah berjajar di pinggir kolam.

Yang unik ialah kawan saya, wajahnya kusam dan murung. Saya tanya kenapa, dia takut hasilnya sedikit. Kata para tetangga, ikannya tidak akan sampai 50 kg. Pasti rugi.

Saya diam saja. Soalnya saya sudah punya bocoran dari calon pembeli. Sebelum turun ke empang, pembeli berbisik: pasti kurang nih uangnya. Nganjuk sebagian.

Dia prediksi, di atas 150 kg. Soal nganjuk mah oke-oke sajalah. Saya juga tukang nganjuk. Haha...

Setelah babagi ke tetangga, berat ikan yang diangkat dari kolam 180 kg. Setelah dirupiahkan, dapat uang 3,2 jt lebih.

Waktu itu per kg dibeli 18.000 rupiah. Setelah dikalkulasi bibit dan pakan, ada margin 1,2 juta.

Kawan saya girang bukan kepalang. Apa lagi yang 1,2 juta saya kasihkan juga semuanya.

Saya mah lihat dia senang saja sudah cukup. Haha... Dan untuk yang satu kolam, tidak saya panen. Saya biarkan untuk ngaliwet. Jadi untungnya, uang 1,2 juta plus ikan satu kolam.

Dari sana saya berkesimpulan, ternak ikan itu menghasilkan. Asal dikelola, dirawat, di-manage dengan telaten.

* Catatan : tulisan ini saya rilis tahun 2017 saat sedang beternak ikan. Cuma berlangsung 2 tahun. Ada gangguan keamanan. Tidak saya lanjut. Dan saya pindah lokasi, pindah jenis ternak, dari pembesaran jadi pendederan.
_____
Warta Warga
Hasan Sidik adalah aktivis sosial-masyarakat desa, petani, pengusaha dan dikenal luas sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post
 
- -->