-->

Saturday, April 18

HASAN SIDIK: PENCAIRAN MODAL SAAT SI COVID 19

HASAN SIDIK: PENCAIRAN MODAL SAAT SI COVID 19


Oleh: Hasan Sidik, SE.,

Sore ini, 17 April 2020, di Desa Cibeber Kiarapedes, saya mencairkan pinjaman modal anggota Lembaga Keuangan yang saya kelola.

Nominalnya 42 juta untuk 8 orang. Setiap anggota nilainya berbeda, mulai 6 s.d 10 juta.

Kedelapan anggota itu terorganisir kedalam kelompok, namanya Simpan Pinjam Kelompok Perempuan. 

Kelak Anda tahu, banyak lembaga keuangan, baik yang resmi maupun berkedok Koperasi, menjiplak model pemberdayaan ala SBY ini. Sebutan untuk mereka bank emok.

Mulanya tujuh kali saya berfikir. Apakah dalam situasi segenting ini harus tetap menjalankan roda organisasi sebagaimana biasanya?

Atau mengambil langkah aman dengan cara diam. Tak ambil resiko. Dengan resiko yang baru, bahwa nasabah saya pundung, kalabur.

Saya analisis hampir sebulan lamanya. Kelompok ini telah meminjam modal usaha selama 10 tahun lebih. Lancar jaya.

Semua anggotanya warungan. Dan saban hari, saya berkeliling desa untuk bertanya pada setiap warung, bagaimana omset mereka?

Setelah didapati jawaban bahwa roda perekonomian relatif stabil, saya ambil resiko : Mencairkan Pinjaman Modal anggota.

Orang berfikir bahwa saya tidak waras. Di saat leasing2 stop selling. Di saat bank menangguhkan atau relaksasi cicilan, saya justru mencairkan pinjaman.

Namun, semoga ini jalan terbaik agar roda ekonomi anggota saya tetap berjalan. Sebab jika tidak, mereka akan membebani pemerintah.

Saya ingin, anggota saya mandiri, produktif, dan malu jika menengadahkan tangan, sekalipun ke pemerintah.

***

Sebagai gambaran, lembaga keuangan ini memiliki tunggakan 1 %. Anggota masih membayar cicilan dengan tepat waktu.

Jika ada beberapa yang terlambat, saya memaklumi. Asal tidak mengada-ada atau bikin apologi semata.

Satu dua usul, agar cicilan mereka ditangguhkan. Saya dengan segera menyadarkan mereka, bahwa jika ada uang, sebaiknya hutang itu segera dibayar.

Menunda beban atau hutang bukan pilihan tepat. Kecuali jika hidup kita benar-benar pailit.

Dan ternyata, nasabah kami yang tersebar di 10 desa se Kecamatan Kiarapedes memahami soal penjelasan ini.

Yang tetap protes, setelah diamati, rata-rata payment storynya bad customer. Apa lagi dihasut oleh satu dua oknum yang memanfaatkan situasi kurang menguntungkan saat ini.

Edaran OJK soal relaksasi cicilan tidak difahami utuh. Jika orang ekonomi yang teliti, pasti tidak mau ambil relaksasi.

Kenapa? Karena bunga tetap berjalan. Prosesnya diajukan. Dan jika modelnya semacam restrukturisasi hutang, cicilan semakin membengkak.

Semoga cara ini adalah satu dari sekian ikhtiar, agar secara psikologis, masyarakat desa tetap memiliki mental yang tenang, optimis, dan baik-baik saja.

Orang Desa pasti Bisa!
_____
Warta Warga
Hasan Sidik adalah aktivis sosial-masyarakat desa, petani, pengusaha dan dikenal luas sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2020 Purwakarta Online | All Right Reserved