Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pinjam uang ke Bank. Ini kata Hasan Sidik!


Foto: Pexels.com

Oleh: Hasan Sidik, SE.,

Kalau mau invest, pikirkan dulu: mau sektor riil atau sektor moneter. Sektor riil, kita bisa buka warung sembako, ternak ayam petelur, buka minimarket, atau usaha jasa semisal laundry.

Sektor moneter kita bisa beli saham, maen forex atau index, asuransi, saving atau deosito, Reksadana dan lain-lain.

Bebas pilih, toh kita juga yang nanggung resiko usaha. Yang penting punya pengetahuan, punya analisis, punya modal, dll.

Namun ada satu investasi yang menggelitik, deposito. Deposito yang bisa dijaminkan untuk akad kredit.

Biasanya, agunan itu rumah, tanah, surat mobil, dll. Sekarang bukti deposito itu bisa diagunkan. Menarik bukan?

Anda punya uang nganggur (idle money) 1 Milyar. Datang ke bank. Depositokan. Kisaran jasa 4 s.d 5 %.

Sehari kemudian, Anda ngajuin kredit. Ke bank yang sama. Bunganya 6 %-an. Cairnya bisa 70 s.d 90 % dari jumlah agunan (deposito kita 1 M).

Pasti ACC? Piraku. Lieur Weh mun teu acc teh. Kan kita punya uang 1 M di deposito.

Yang lebih lieur lagi KITA. Bukan bank. Ngapain deosito 1 M kalau Anda mau pinjem uang 900 juteng?

Belum lagi bunga. Bank ngasih bunga ke kita 4 s.d 5 %. Sementara kita ngasih bunga kredit ke bank 6 %. Lieur pan?

Memang kalau dipatotoskan dengan bunga deposito yang didapat dari bank, kita tinggal nambah 1 %.

Terus ngapain kita ngasih oteng 1 % untuk uang milik kita kepada orang lain?

Dari uraian di atas, semoga kita tidak kabawa lieur. Semoga tetap waras.

Saran saya, jadilah pengusaha. Wirausahalah. Buka lapangan kerja. Jangan parkir uang kita di rekening.

Aman, betul. Tapi teu anakan. Dina anakan na ge pan riba. Ari usaha mah pan aya untung. Halal.

Percayalah, wirausaha itu penuh resiko. Resiko na gagal, modal koredas, untung tiada, menderita.

Tapi juga bisa untung, untung tak kepalang. Tapi jarang yang ambil resiko, kecuali pemberani. (*)


_____
Warta Warga
Hasan Sidik adalah aktivis sosial-masyarakat desa, petani, pengusaha dan dikenal luas sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Berlangganan via Email