21 April 2020

hasan-sidik-purwakarta-kartini-petani-hmi

Oleh: Hasan Sidik, SE.,

Saat Peringatan Hari Kartini, orang euporia dengan sosok wanita dan penisbahan dirinya tentang perilaku yang serba elitis.

Wanita penjahit, wanita pemadam kebakaran, wanita Presiden, wanita aktivis sosial, dll.

Lalu di mana wanita tani?

Padahal, tanpa wanita, mustahil ada pertanian.

Mustahil ada beras, ada gandum, ada umbi-umbian.

Perlu Anda ketahui, sejarah pertanian bermula saat munculnya pembagian tugas kodratiah lelaki dan wanita.

Wanita secara kodrati melahirkan, menyusui, dan mengurus anak, sementara lelaki berburu.

Kodrat melahirkan berimplikasi pada pemenuhan makanan bayi.

Makanan yang dikumpulkan berupa umbi-umbian, jamur, dan binatang kecil.

Karena kecintaan dan kasih sayang terhadap anaknya, dari sinilah bermula.

Sejarah kehidupan tani di alam semesta ini atau yang kita sebut bercocok tanam.

Sekarang, jka Anda ditanya siapa pelopor pertanian?

Perempuan. Tak salah lagi.

Tentu pengetahuan ini jarang didapat dari dinas pertanian, penyuluh, atau aktivis tani.

Mungkin dianggap tidak penting.

Saya mengulas perempuan sebagai pelopor tani ini alatan betapa vitalnya jejak dan peran mereka dalam peradaban umat manusia.

Maka, siapa saja yang ingin hidupnya berkah, berkelimpahan makanan, hormatilah wanita, terkhusus ibu kita.

Sebab merekalah perintis dunia pertanian yang kian hari kian populer.

Bahkan saking populernya, orang2 elit berlomba mengeruk duit di ladang mereka.

Selamat Hari Kartini.

(21/4/2020)

_____
Warta Warga

Hasan Sidik adalah aktivis sosial-masyarakat desa, petani, pengusaha dan dikenal luas sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post