-->

Friday, April 17

HASAN SIDIK: BELAJAR TULI

HASAN SIDIK: BELAJAR TULI

Pembuat ranggining

Oleh: Hasan Sidik, SE.,

Wabah corona mengubah konstalasi dunia dan kehidupan. Di dunia dan Indonesia. Di kota dan di desa.

Banyak yang berkeluh kesah. Banyak yang hawatir. Banyak yang sedih.

Data-data dan angka covid 19 terus di-update di media masa. Yang terinfeksi, yang meninggal dunia, yang sembuh, yang dalam pemantauan.

Para pejabat, gugus tugas dari pusat sampai daerah, terus menyampaikan keterangan pers, disiarkan televisi dan media sosial secara live.

Masyarakat sebagai konsumen informasi, pun berharap cemas. Berapa angka yang wafat? Apakah di sekitar tempat tinggalnya ada yang positif?

Kepenasaran terhadap angka-angka yang dirilis ini bak musim pilkada waktu penghitungan suara. Skornya berapa? Siapa yang unggul.

Mungkin alatan handphone dan media sosial tengah merajai atmosfir kehidupan masyarakat.

Sehingga, sedetik pun tak pernah lepas dari sentuhan layar. Layar terkunci, usap lalu buka. Pergi ke toilet, data dimatikan, 2 menit kemudian di-on-kan lagi.

Di desa-desa, relawan-relawan sibuk membagikan masker, membentuk posko, membangun tilang dadakan.

Setiap kendaraan yang hendak masuk suatu wilayah, diperiksa. Jidatnya ditembak alat pengukur suhu, motornya disemprot disinfektan, tangannya dikasih sabun pencuci.

Mereka juga sambil deg-degan. Cemas. Saat bertemu orang asing, dapatkah dipastikan negatif virus? Kita terus jadi saling curiga.

Implikasi yang lain, kecemasan semakin memuncak. Bagaimana nasib usaha? Bagaimana nasib pekerja? Apakah pabrik akan ditutup?

Rumor soal beberapa pabrik yang akan merumahkan karyawan jelas beban psikologis tak ringan.

Bagaimana jika di-PHK? Dari mana beli beras? Bagaimana cicilan ke bank emok? Apakah masih bisa beli kuota? Jika tidak, dari mana dapat info soal perkembangan covid 19? Bagaimana jika listrik tak kebayar, atau token tak kebeli?

Inilah situasi yang terjadi, sebenar-benarnya terjadi. Hari-hari panjang dan melelahkan. Hari-hari penuh kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran.

***

Dalam situasi semacam ini, banyak psikolog dibutuhkan. Termasuk untuk mengedukasi, agar masyarakat tidak terlalu paranoid.

Kecemasan berlebih justru bisa lebih berbahaya ketimbang Corona itu sendiri. Implikasinya bisa fatal, bisa memengaruhi interaksi sosial.

Mari berfikir waras dan melakukan trheatment ala kadarnya. Diantaranya, updatelah informasi covid sekali dalam sehari. 

Tak perlu terus dipantau. Sebab waktu akan terbuang percuma hanya untuk membaca informasi Corona.

Lalu, mari terus produktif. Anjuran petugas, aparat, kita patuhi. Tetapi banyak hal berguna yang dapat kita lakukan.

Diantaranya, kita bisa menanam sayuran di polybag, pergi ke kebun, atau membuat kerajinan tangan, kue-kue, dan aktivitas positif lainnya.

Di suatu desa, Desa Gardu Kecamatan Kiarapedes, saya mendapati nenek-nenek renta tengah sibuk membuat panganan.

Namanya rangining. Ada juga ranginang, opak, dodol, dan cemilan lainnya.

Wanita renta yang pendengarannya sudah mulai terganggu ini dengan cekatan mencetak, membuat adonan, mengukus, lalu menjemur.

Menurut anaknya, mereka saban hari terus membuat kue. Pesanan terus mengalir.

Saat ditanya pemasukan, bagi mereka ada corona dan tidak ada, tetap stabil. Tidak ngaruh. Bahkan untuk sekedar bayar cicilan PNPM, itu bukan beban.

Saat saya goda soal penangguhan angsuran, "Jang naon? Hutang mah ayeuna bayar, engke ge bayar."

Mari belajar dari mereka. Kadang, menutup telinga untuk hal teu paruguh itu ada perlunya. Biar jalanan bising, biar medsos ramai, kita mah disiplin : tetap produktif dan menghasilkan.
_____
Warta Warga
Hasan Sidik adalah aktivis sosial-masyarakat desa, petani, pengusaha dan dikenal luas sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2020 Purwakarta Online | All Right Reserved