-->

Wednesday, March 25

Potensi baru sentra pisang dan gula aren di Kabupaten Purwakarta

Potensi baru sentra pisang dan gula aren di Kabupaten Purwakarta

sentra-pisang-gula-aren-purwakarta

Rubrik Warta Warga


Sebelumnya penulis ucapkan terima kasih kepada media manapun yang bersedia memuat tulisan ini. Penulis mengirim naskah ini ke media dengan maksud untuk berbagi informasi kepada khalayak, berharap agar bermanfaat, kemudian penulis juga mengharapkan kritik, saran dan koreksi atas semua kesalahan-kesalahan.

Bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa), terutama di Desa Ciawi dan Desa Taringgul Tonggoh penulis melakukan penggalian potensi ekonomi desa. Entah mungkin latar belakang penulis yang merupakan seorang petani, penulis lebih ‘melihat’ potensi pertanian dibandingkan potensi lainnya.

Apa itu PLD?


Penulis sendiri merupakan Pendamping Lokal Desa (PLD) yang bertugas di Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, tepatnya di empat desa yaitu Desa Ciawi, Desa Sukadami, Desa Taringgul Tonggoh dan Desa Taringgul Tengah. PLD adalah individu yang bertugas sebagai Pendamping Desa di bawah Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia yang pembentukannya berdasarkan Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014.

PLD melaksanakan tugas mendampingi Desa yang mengacu pada Kerangka Acuan Kerja Pendamping Lokal Desa (PLD) yang ditetapkan Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Tahun 2016, ruang lingkup tugas PLD adalah:

  1. Mendampingi Desa dalam perencanaan pembangunan dan keuangan Desa
  2. Mendampingi Desa dalam pelaksanaan pembangunan Desa
  3. Mendampingi masyarakat Desa dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dan Desa
  4. Mendampingi Desa dalam pemantauan dan evaluasi kegiatan pembangunan Desa.

Sebagai PLD, penulis sangat senang dengan ‘instruksi’ dari Pendamping Desa (tingkat Kecamatan) yang menakankan kepada penulis untuk mengintensifkan ‘tupoksi’ poin ke-3, yaitu Mendampingi masyarakat Desa dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat dan Desa, penulis bersama beberapa warga desa dan perangkat desa, terutama BUMDesa mulai menelusuri potensi-potensi ekonomi dari bidang pertanian yang ada di Desa dampingan penulis.

Temuan di lapangan

Setelah melakukan cek lokasi ke kebun-kebun, sawah dan daerah pertanian lainnya, penulis menemukan beberapa hal, diantaranya:

  1. Terdapat beberapa tanaman yang selalu ada sepertinya ‘tumbuh alami’ di setiap kebun, meskipun bukan tanaman utama. Diantaranya adalah tanaman pisang, kopi robusta dan aren.
  2. Warga di keempat desa tersebut menyatakan bahwa tanaman utama yang saat ini dibudidayakan atau dimanfaatkan secara ekonomi secara mayoritas adalah tanaman manggis, cengkih, padi, aren dan pisang.
  3. Khusus aren, tanaman ini tidak benar-benar dibudidayakan, tetapi keberadaannya dimanfaatkan secara ekonomi oleh warga Desa Ciawi dan sebagian warga Desa Sukadami.
  4. Meskipun aren tumbuh dengan baik di empat desa tersebut, tetapi hanya di wilayah Desa Ciawi dan Desa Sukadami saja yang banyak dimanfaatkan secara ekonomi oleh warga, terutama diolah menjadi gula merah.
  5. Sedangkan di Desa Taringgul Tonggoh dan Desa Taringgul Tengah, pohon aren banyak ditebang atau dijual kepada produsen ‘aci kawung’. Menurut salah seorang warga, penyadap nira (lahang) sudah tidak ada di dua Desa tersebut.
  6. Tanaman kopi robusta ‘bernasib’ kurang beruntung, ditengah ‘booming’ kopi indonesia tanaman kopi di desa-desa ini hanya diperankan sebagai tanaman pagar, pembatas antar kebun.
  7. Tanaman pisang merupakan tanaman yang paling tampak ‘feel at home’ tumbuh subur di empat desa dampingan penulis. Dibudidayakan dengan baik meskipun masih dengan cara tradisional, menghasilkan pendapatan sepanjang tahun bagi warga desa.

Laporan pertama

Setelah melakukan pengamatan diatas, penulis segera berkoordinasi dengan salah satu Pendamping Desa (PD), atasan PLD. Penulis melaporkan dan melakukan diskusi dengan PD dan salah satu pengurus BUMDesa. Hasil diskusi dihasilkan beberapa rencana tindak lanjut, sebagai berikut:

  1. Melakukan pengamatan ulang bersama dinas terkait, dalam hal ini Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kabupaten Purwakarta bidang Perkebunan dan Hortikultura. Karena tanaman yang tumbuh dan dibudidayakan warga kecuali padi kebanyakan masuk kedalam kategori tanaman Perkebunan (Aren, Kopi, Cengkih) dan Hortikultura (Pisang dan Manggis).
  2. Merancang komoditas atau produk unggulan desa yang sesuai habitat alami di desa setempat.
  3. Pemanfaatan lahan desa dan optimalisasi lahan warga desa untuk peningkatan ekonomi warga desa.
  4. Melakukan koordinasi dengan stakeholder, seperti Pemerintah Desa, Tenaga Ahli di Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD), Kecamatan, Dinas-dinas terkait (Dispangtan, Diperindag, Diskominfo, DPMD, Kehutanan, dll).


sentra-pisang-gula-aren-purwakarta
Jodi Perniawan, salah satu petani pisang. Ia juga kini menjadi Direktur BUMDesa di Taringgul Tonggoh


Kunjungan Dinas Pertanian

Pada hari Senin, tanggal 23 Maret 2020, Dispangtan Purwakarta, mengunjungi lokasi kebun-kebun yang dimaksud. Diwakili oleh Kepala Seksi (Kasi) Produksi Tanaman Perkebunan, Bapak Sentot. Kemudian Kasi Tanaman Hortikultura, Bapak Kukun. Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan dan Hortikultura, Bapak Hadi kemudian menyusul hadir, setelah menyelesaikan beberapa tugas di Urban Farming, Kecamatan Kiarapedes.

sentra-pisang-gula-aren-purwakarta
Koordinasi dengan Kepala Desa Taringgul Tonggoh. Dari kiri: Nana Sumarna (Koordinator BPP Wanayasa), Jodi Perniawan (Direktur BUMDesa Taringgul Tonggoh), Bapak Sentot (Kasi Produksi Perkebunan Dispangtan), Agus Suryana (Kepala Desa Taringgul Tonggoh), Bapak Kukun (Kasi Hortikultura Dispangtan) dan seorang Petani setempat. (23/3/2020)

Titik kumpul pertama di Desa Taringgul Tonggoh, melakukan perkenalan dan diskusi singkat antara Bapak Sentot, Bapak Kukun, Jodi Perniawan (Direktur BUMDesa Taringgul Tonggoh), Agus Suryana (Kepala Desa Taringgul Tonggoh), Nana Sumarna (Koordinator Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Wanayasa) serta petani di desa setempat.

Selanjutnya semuanya melakukan kunjungan ke kebun kecuali Kepala Desa karena dalam kondisi kurang sehat. Setalah tiba di kebun menyusul datang Eep Saepul Malik (Pendamping Desa Kecamatan Wanayasa) dan Restu Ramadhan (Kasi Kesra Desa Taringgul Tonggoh).

Kebun Pertama


sentra-pisang-gula-aren-purwakarta
Kunjungan pertama di kawasan lahan yang menjadi lokasi penanaman pisang oleh warga Desa Taringgul Tonggoh dan Taringgul Tengah

Kebun pertama yang diamati adalah kawasan pertanian yang menjadi lahan berkebun warga Desa Taringgul Tengah dan Desa Taringgul Tonggoh. Setelah melakukan pengamatan di kebun, Bapak Sentot dan Bapak Kukun menyampaikan beberapa hal, diantaranya adalah sebagai berikut (kesimpulan subjektif penulis):

  1. Desa Taringgul Tonggoh dan Desa Taringgul Tengah potensial untuk dijadikan sentra pisang Kabupaten Purwakarta. Karena kesesuaian lahan dan masih dibudidayakan dengan oleh warga.
  2. Dinas Pertanian bisa membantu petani pisang dengan melakukan intensifikasi pertanian, yaitu mengintensifkan pemeliharaan tanaman agar produksi pisang meningkat. Biasanya dengan cara memberi bantuan berupa pupuk, alat pertanian atau kebutuhan lainnya.
  3. Kopi Robusta bisa dilakukan rehabilitasi, penambahan jumlah tegakan. Namun warga sudah tidak membudidayakannya dengan intensif, menurut Jodi adalah karena harga kopi sangat rendah.
  4. Mengenai aren, dimungkinkan Dinas Pertanian melakukan ‘sentuhan’ mengenai budidaya dan pelatihan, seperti pelatihan menyadap. Meskipun ada unsur-unsur metafisika dalam proses penyadapan nira di beberapa daerah, teknis pelatihan menyesuaikan kebiasaan masyarakat desa setempat.
  5. Daerah Wanayasa tidak hanya potensial untuk budidaya manggis, teh dan cengkeh.
  6. Poin 1 sampai 4, dilakukan melalui proses pengajuan atas nama lembaga, seperti Kelompok Tani (Poktan) atau Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).

sentra-pisang-gula-aren-purwakarta
Berkumpul beberapa saat di saung milik petani, diskusi ringan mengenai wacana kedepan. Bersama Eep Saepul Malik (Pendamping Desa/PD Kec. Wanayasa) dan Restu Raamadhan (Kasi Kesra Desa Taringgul Tonggoh)

Kebun Kedua

Selepas dzuhur, kebun selanjutnya yang diamati adalah kebun aren yang terletak di perbatasan antara Desa Sukadami dan Desa Ciawi. Kali ini tim yang mangamati, selain penulis sendiri adalah Sahrul Bujiman (Direktur BUMDesa Ciawi), Bapak Hadi (Kabid Perkebunan dan Hortikultura Dispangtan Purwakarta), Bapak Sentot, Bapak Kukun dan dua petani penyadap nira sekaligus pengolah gula merah.


sentra-pisang-gula-aren-purwakarta
Tim mengunjungi kebun aren di wilayah perbatasan Desa Ciawi dan Desa Sukadami

Berikut adalah beberapa kesimpulan sementara, yang penulis dengar saat pengamatan di kebun dan di rumah produksi gula merah:

  1. Tanaman aren tercatat dalam statistik perkebunan wilayah Kabupaten Purwakarta, namun Kabid Perkebunan sendiri baru kali ini melihat langsung kebun aren di Wanayasa.
  2. Desa Ciawi dan Desa Sukadami potensial untuk menjadi sentra gula merah di Kabupaten Purwakarta, atau setidaknya sentra gula merah di Kecamatan Wanayasa.
  3. Bapak Ohim adalah pemilik sebagian besar lahan kebun aren di Desa Ciawi, tetapi penyadap dan pengolah gula merah (nitis) dilakukan oleh banyak warga.
  4. Warga Desa setempat mengaku tidak pernah menanam aren (kecuali lahan yang sebalah atas), penangkaran, penyebaran dan penanaman dilakukan secara alami oleh binatang luwak.
  5. Sahrul Bujiman, Direktur BUMDesa Ciawi mengaku senang dengan kunjungan dan perhatian Dinas Pertanian (Dispangtan), menurutnya kunjungan tersebut adalah yang pertama kali ke Desa Ciawi.
  6. Sahrul terinspirasi untuk melakukan pengembangan ekonomi warga desa dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia.

Tinjauan Agribisnis Gula Aren Desa Ciawi dan Sukadami

Hari/Tanggal: senin, 23 Maret 2020

1. Up-stream

Benih:
Dibenihkan, ditanam dan disebar oleh binatang luwak. Namun dari pohon aren yang ada, benih dari kotoran luwak cukup baik menghasilkan tanaman aren yang sehat dan produktif.

Pupuk:
Selama ini pohon aren yang ada tidak dipupuk, namun belum dirasa ada masalah. Baik terhadap pertumbuhan pohon aren maupun terhadap produktivitas nira.

Pestisida:
Mungkin karena tidak dilakukan pengamatan spesifik terhadap tanaman, maka tidak ditemukan adanya masalah pada tanaman aren. Baik itu serangan hama, gulma maupun penyakit tanaman, sehingga tidak dilakukan penanganan atau penggunaan pestisida. Rapatnya jarak tanam antar pohon aren, membuat tanah tidak tersinari oleh matahari, maka gulma tidak tumbuh subur, kemungkinan tidak diperlukan herbisida hanya perlu penyiangan secara ringan secara mekanis.

2. On-farm

Jumlah petani petani yang terlibat:
Jumlah petani, penyadap dan pengolah yang terlibat aktif dalam usaha tani tanaman aren sedang dihitung oleh BUMDesa Ciawi.

Berapa pohon aren:
Jumlah Pohon sedang dihitung oleh BUMDesa Ciawi.

3. Agro-Industry

Berapa pengolah:
Jumlah pengolah sedang dihitung oleh BUMDesa Ciawi. Nira (lahang) ada yang diolah menjadi gula merah ada juga yang dijual dalam bentuk nira, konon untuk bahan baku obat. Berikut adalah pemanfaatan tenaman aren di daerah Wanayasa:

  1. Gula merah
  2. Cuka
  3. Bahan baku obat
  4. Wedang
  5. Gula semut
  6. Aci kawung
  7. Ijuk untuk tali, sapu, alat pembenihan ikan atap dan lain-lain
  8. Kerajinan dari ‘ruyung’, kayu pohon aren
  9. Sapu lidi
  10. Dan lain sebagainya.

Potensi:
Belum dihitung berapa potensi ekonomi atau perputaran uang dari usaha tanaman aren oleh warga desa.

4. Marketing

Penjualan:
Setiap pengolah (nitis) memiliki pembeli tetap, misal Sate Oking yang berlangganan gula merah dari satu orang penyadap. Dipasaran gula merah asli tersapu oleh gula merah ‘palsu’ yang pembuatannya dicampur dengan bahan lain seperti aci, gula kelapa dan lain-lain. ‘Pemalsuan’ tersebut diduga dilakukan untuk memperbesar margin harga atau agar lebih laku karena bisa dijual dengan harga lebih murah.

Perlu edukasi dan promosi yang masif dari Pemerintah Kabupaten dan pihak lainnya agar Gula Merah dari pohon aren asli bisa diterima oleh masyarakat luas, betapa pun harganya lebih mahal dari gula merah ‘palsu’. Edukasi dan Promosi telah berhasil dalam produk kopi arabika warga desa Pusakamulya, semoga juga akan berhasil pada gula aren asli di Desa Ciawi dan Desa Sukadami.

Harga berapa?
Harga sementara tidak bisa dibuka, karena dimungkinkan setiap pengolah memberikan harga berbeda. Karena pembeli yang berbeda, juga tidak adanya standarisasi ukuran gula yang dihasilkan, ‘ganduan’ atau alat cetak gula yang terbuat dari bambu dimungkinkan tidak sama.

Kekurangan pasar tidak?
Di kebun, Bapak Kukun menekankan tentang Kulitas, kuantitas dan kontinyuitas. Jika hal ini dilakukan dengan disiplin, petani aren bisa memiliki brand serta mendapatkan pasar atau harga yang lebih baik dan berkelanjutan.

5. Support

Penyuluhan yang diperlukan?
Dirancang oleh Dispangtan Bidang Perkebunan bersama BPP Wanayasa

Pelatihan yang diperlukan?
Dirancang oleh BUMDesa, Dispangtan dan P3MD. Disperindag (Belum Koordinasi)

Modal yang diperlukan?
Fasilitas pinjaman bagi usaha kecil menengah, termasuk ada di Bank BUMN, seperti BRI, Mandiri dan lain-lain. Atau bisa dari BUMDesa jika menganggarkan, tapi prosesnya harus ditempuh dan cukup panjang seperti Musdes dan pembentukan unit usaha BUMDesa.

Infrastruktur dan Kebijakan pemerintah yang diperlukan apa saja?
Sementara akses jalan produksi sudah cukup baik di Desa Ciawi, Pemerintah Desa dengan Dana Desa (DD) membangun jalan yang membuka akses ke lokasi pertanian warga, bahkan bisa masuk mobil. Jalan penghubung dua desa antara Desa Ciawi dan Desa Sukadami juga telah diperbaiki, menggunakan dana Bankeu (?).

Kesimpulan

Di hulu relatif tidak ada masalah, yaitu telah tersedianya tanaman aren yang cukup banyak, tetapi masih ada celah untuk lebih dioptimalkan. Di hilir, dari mulai pengolahan, pemasaran hingga penunjang bisa menjadi pintu masuk intervensi positif dari pihak-pihak yang akan membantu.

Pemasaran sebetulnya tidak tercatat sebagai sub-sistem agribisnis tersendiri, biasanya disatukan dengan pengolahan (pasca-panen). Tetapi saat ini, kompleksnya pemasaran menjadi penting untuk kita anggap sebagai ‘sub-sistem’ tersendiri.

Sub-sistem Penunjang (supporting system) yang perlu turun-tangan diantaranya adalah BUMDesa untuk pemasaran. Dinas Pertanian untuk sub-sistem hulu (sarana dan budidaya) dan penyuluhan serta pelatihan.

Kemudian jika memungkinkan, Dinas Koperasi, UMKM, perindustrian dan perdagangan (Disperindag) intervensi dalam pengolahan pasca-panen dan pemasaran. Selain itu, tidak bisa dipisahkan Dinas Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) serta dinas lainnya agar menyokong.

Pastinya Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) dalam hal ini PLD, PD dan TA harus terus bisa memfasilitasi secara intensif. Tidak berhenti sampai di sini saja, sebaiknya sampai warga desa mendapat manfaat optimal dari sumber daya alamnya sendiri dan menjadi subjek pembangunan di Desanya sendiri. (*)

____________________
Warta Warga dari Enjang Sugianto
Penulis adalah petani yang saat ini aktif di Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), PC GP Ansor Purwakarta bidang Pertanian, PLD di Desa Ciawi, Desa Sukadami, Desa Taringgul Tengah dan Desa Taringgul Tonggoh, Kecamatan Wanayasa. Fans berat Komunitas Pena dan Lensa (Kopel) dan Himpunan Pemuda Tani (Hidata).

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2020 Purwakarta Online | All Right Reserved