PurwkartaOnline.com - Dalam sebuah grup Whatsapp (WA) dengan nama grup (inisial) GA beredar video perusakan sebuah sarana ibadah islam, Mushola.

Konon, lokasi kejadian adalah di Perumahan Agape Griya, Desa Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara.

Mengenai waktu kejadian anggota grup WA berinisial S yang mengaku berdomisili di Kabupaten setempat menyatakan perusakan ini terjadi pada tanggal 29 Januari 2020.

Massa yang mengamuk melakukan perusakan mushola, namun tidak menyerang penghuninya.

Saat perusakan terjadi, seorang warga yang berpeci sama sekali tidak disentuh.

"Sasaran mereka mushollah bukan manusia nya pak . . . Mohon analisa lagi kalimat di atas . . Yang di permasalahkan itu skrng mereka sebut itu Balai bukan Mushollah sementara surat pembelian nya jelas untuk pembangunan mushollah," komentar seorang anggota grup WA.

naskah-deklarasi-damai-perusakan-mushola-masjid-minahasa-utara
Naskah deklarasi damai


Berdasarkan spanduk yang dipasang di samping mushola dan 'Deklarasi Damai', latar belakang kejadian perusakan ini karena ada penambahan bangunan dan fungsi.

Disebutkan dalam naskah Deklarasi Damai, masyarakat setempat yang mayoritas non-muslim menuntut untuk menuntaskan perizinan.

Kemudian menuntut pula untuk tidak menggunakan toa sebelum proses izin selesai.

Sedangkan fungsi mushola sebagai tempat shalat, masyarakat setempat tidak mempermasalahkan. 

naskah-deklarasi-damai-perusakan-mushola-masjid-minahasa-utara
Spanduk di samping Mushola

Karena izin sebagai mushola sudah tuntas pada tahun 2015 silam. 

Hanya izin penambahan bangunan dan fungsi sebagai tempat pertemuan yang masih dalam proses.

Beberapa anggota grup WA berujar agar bijaksana dengan kejadian tersebut, karena terkadang apa yang beredar di luar tidak sama dengan persis kejadian di lapangan.

Anggita lainnya menyarankan agar menyerahkan kasus ini kepada aparat hukum setempat.

Sebagian lainnya menyarankan agar dilakukan proses mediasi, dengan terlebih dahulu melakukan klarifikasi.

Seorang anggota grup menuturkan kekhawatirannya, jika dikerahkan kekuatan massa maka selanjutnya akan terjadi konflik berkepanjangan.

"Persoalan isu RAS itu sangat mujarab tuk jadi jentik perpecahan, makanya kita tunggu berita yg valid-nya aja, nanti hasil dari kerja aparat serta tokoh. Toh kita pun belum tahu duduk permasalahan yg sebenarnya,,walaupun ada yg tinggal disana terkadang berita yg beredar sering berbeda dengan kenyataan yg sebenarnya," saran seorang anggota grup berinisial AW.

Daerah-daerah seperti Ambon dan lainnya patut menjadi contoh bagaimana sentimen agama, antara mayoritas dan minoritas rentan dijadikan pemantik kerusuhan horizontal sesama anak bangsa. (Son)

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post