Tadi aku bermimpi, ada seorang Kyai berjalan di pematang sawah. Menghampiri seorang buruh tani tua, yang lelah bekerja, terduduk.


Petani tua itu berkulit hitam, karena sering mencangkul di sawah dibawah terik matahari tanpa memakai baju.


Kyai tersebut mengambil sorban yang terkalung di lehernya sendiri. Dengan wajah tampak menahan tangis ia kibaskan sorban agar terbuka dengan lebar.


Dengan penuh kerelaan, sorban tersebut ia dihamparkan. Lalu pak tani tua bertelanjang dada ia persilakan duduk di atas sorban tersebut.


Lalu muncul wajah-wajah, (namanya juga mimpi) wajah Kyai-kyai lain dengan wajah sinis. Dari wajah mereka tersirat rasa heran dan penuh tanya.


Kyai yang tengah bersama petani tua menoleh dan balik bertanya:


"Mana mungkin kita tinggalkan mereka yang masih hidup dengan himpitan derita. Lalu kita merasa sedang membumikan Islam Rahmatan Lil Alamin dengan cara membuat penjara eksklusif bagi diri kita sendiri?"


***

Setelah mengingat-ingat mimpi itu aku langsung bersyukur. Itu hanya mimpi. Meskipun aku tak pernah faham apa maksud mimpi tersebut.


Aku kira, hanya Si Kijing yang berperilaku seperti itu, membuat penjara 'eksklusifitas diri' dari umatnya.


#HanyaMimpi #SiKijing


This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post