Tenaga Kesehatan Desa, Bidan dan Kader Posyandu berfoto bersama, sebelum dimulai Sosialisasi Kegiatan Konvergensi Pencegahan Stunting di Desa Taringgul Tengah, Selasa (17/12/2019).

PurwakartaOnline.com - Data penderita stunting di Desa Taringgul Tengah mengalami penurunan sekitar 36 %. Dihitung sejak tahun 2018 tercatat terdapat ada 52 anak penderita stunting, kemudian menurun pada tahun 2019 ini menjadi 33 anak.

Hal ini terungkap saat dilaksanakan Pelatihan Kesehatan dan Penanganan Stunting bagi Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Kader Posyandu di Kantor Desa Taringgul Tengah, Selasa (17/12/2019).

Namun usaha pencegahan dan penanganan akan terus digalakan, termasuk adanya keterlibatan Pemerintah dalam Kegiatan Konvergensi Pencegahan Stunting.

Disampaikan oleh Petugas Promosi Kesehatan dari UPTD Puskesmas Wanayasa, Bidan Dewi Widyoningtyas, AM.Keb, SKM., bahwa angka stunting menurun di Desa Taringgul Tengah.

“Tahun 2018 kan 52 orang, sekarang (tahun 2019) tinggal 33,” terang Bidan Dewi di hadapan peserta pelatihan.

Pencegahan stunting dilaksanakan sejak dari masa kehamilan. Sedangkan anak yang terkena stunting baru bisa diketahui setelah lahir.

“Upaya (pencegahan stunting) harus dilakukan sejak dalam kandungan. Ketahuannya memang setelah lahir,” ungkap Bidan Dewi, Selasa (17/12/2019).

Bidan Dewi mengungkapkan bahwa peran serta Kader sangat penting dalam upaya pencegahan stunting. Karena para kader bersentuhan langsung dengan sasaran setiap hari.

“Tidak bisa kita melakukan program pencegahan stunting ini tanpa keterlibatan Kader,” jelas Bidan Dewi.

Dana Desa untuk Kesehatan
Pemerintah Desa Taringgul Tengah mulai menganggarkan Dana Desa untuk upaya kesehatan bagi masyarakatnya. Kepala Desa Taringgul Tengah, Ade Kusnadi membenarkan bahwa tahun 2020 di Desanya akan dianggarkan kegiatan pemberdayaan kesehatan.

"Kami (Musdes) sudah sepakat," ujar Kepala Desa yang akrab disapa Ade Nehi ini. Selasa (17/12/2019).

Menurut Ade Kusnadi, masyarakatnya membutuhkan sentuhan yang intensif dari perugas kesehatan.

"Bagi kami, Kader dan Bidan Desa adalah ujung tombak," ungkap Ade Kusnadi.

"Tapi Kader yang sejak lama paling berjasa, belum tersentuh perhatian," keluh Kepala Desa.

Maka berdasarkan musyawarah desa, Insentif Kader jadi salah satu prioritas penggunaan Dana Desa di Tahun 2020.

"Meskipun belum bisa (memberi insentif) besar, Pemerintahan Desa mulai berupaya untuk memberikan perhatian untuk mereka (Kader Posyandu)," jelas Ade Nehi prihatin.

Desa wajib cegah stunting
Bertindak sebagai pemateri dalam pelatihan Kesehatan di Desa Taringgul Tengah, Pendamping Desa, Asep Nawawi menjelaskan detail pentingnya Pemerintahan Desa dalam upaya kesehatan Masyarakatnya.

"Ayat-ayat (Al-Qur'an) ini saya sampaikan, bukan apa-apa, apa yang kita laksanakan ini sama sekali tidak bertentangan dengan aturan mana pun, termasuk dengan agama (Islam)," beber Asep Nawawi.

Sedangkan pemerintah pusat telah menetapkan bahawa dalam semua tingkatan pemeeintahab wajib dalam upaya pencegahan stunting.

"Pemerintah pusat, (pemerintah) daerah hingga (pemerintah) desa sekarang turun mengatasi stunting," terang Aseo Nawawi.

Bahkan menurut Asep Nawawi, Pemerintah Desa yang menolak program pencegahan stunting bisa terhambat pencairan Dana Desanya.

"Desa yang menolak, Dana Desanya bisa terhambat tahun selanjutnya," tegas Asep Nawawi. (enjs)

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post