Haji Aleh, petani kopi terbaik Indonesia latih petani Desa Pusakamulya

Haji Aleh (paling kanan) melatih budidaya kopi kepada petani Desa Pusakamulya. (Senin, 23/12/2019).

PurwakartaOnline.com - Haji Aleh, Pengusaha kopi asal Pangalengan, Kabupaten Bandung melatih para petani kopi di Desa Pusakamulya, Kiarapedes Purwakarta. Senin (23/12/2019).

Beliau adalah petani kopi teladan di Indonesia, kiprahnya dalam usaha kopi telah dimulai sejak tahun 2001 silam.

Awalnya beliau melakukan budidaya kopi, selanjutnya mulai memasarkan dan memproses pengolahan kopi melalui koperasi yang ia bentuk bersama para petani lain.

Tidak ada yang menyangka, jika sebelumnya Haji Aleh hanyalah seorang kuli bangunan.

Semua latar belakang kehidupannya beliau kupas di hadapan para petani kopi Pusakamulya.

"Saya kuli ngaduk, urusan ngitung bangunan saya bisa," ujarnya terus terang.

Berkah krisis moneter
Profesi sebagai tukang bangunan akhirnya harus berhenti, akibat krisis moneter yang melanda dunia di tahun 1998.

"Waktu itu, semua (rekan kerjanya) kena PHK. Termasuk penjaga keamanan di Perusahaan," lanjut Haji Aleh mengenang.

Banyak yang di-PHK, termasuk dirinya dan teman-teman kerjanya. Kepanikan melanda masyarakat saat itu.

Setelah mendapatkan benih kopi di tahun 2001, ia mulai menanam di daerah Gunung Tilu, Pangalengan.

Hingga kini, nama Gunung Tilu menjadi merek dagang berbagai olahan kopi kelompoknya.

Berbagi ilmu adalah kewajiban
Bagi diri beliau, membagikan ilmu tentang kopi adalah kewajiban.

Tidak ada rasa takut untuk tersaingi oleh murid-murid yang ia ajari.

Setiap pekan dari berbagai daerah selalu ada yang datang ke tempat Haji Aleh.

Bahkan diantaranya ada yang dari luar pulau, seperti dari Kalimantan dan daerah lainnya.

"Tiap minggu, selalu ada yang datang untuk belajar kopi. Tidak apa-apa, disediakan kelasnya," terangnya.

Haji Aleh mengaku bangga, diantara pemuda yang belajar padanya kini telah sukses menjadi pengusaha kopi.

Lebih lanjut ia sebut beberapa brand kopi terkenal, yang ternyata awalnya pernah belajar di 'Padepokan kopi' Haji Aleh.

"Banyak yang telah berhasil, saya bangga terhadap mereka. Mereka jauh lebih sukses dari saya," tutur Haji Aleh puas.

"Ini adalah ibadah," lanjut Haji Aleh.

Nyeduh kopi keliling dunia
Dulu ngaduk bahan bangunan, kini ia menyeduh kopi. Nyeduh kopi kadang di Singapura, Norwegia, Bahrain dan dimana-mana.

Haji Aleh mengaku sangat menikmati usahanya sebagai petani kopi.

Meskipun pada kenyataannya sangat menyita waktu dan tenaga.

Namun ia tetap berusaha istiqomah menjalaninya.

"Kadang harus nyeduh kopi di Singapura, kadang di Bahrain, kadang di Norwegia," kata Haji Aleh.

"Tapi resikonya memang begitu, kita bawa nama (kopi) 'Java Preanger' ke masyarakat Dunia," tukasnya.

2 Kunci sukses budidaya kopi
Dalam sesi praktek pelatihan kopi, Haji aleh mengungkapkan dua kunci sukses bertanam kopi.

Menururnya di Jawa Barat, banyak yang gagal membudidayakan kopi karena mengabaikan dua hal tersebut.

Pertama, lubang tanam. Menurut pengalamannya, lubang tanam kopi yang paling baik itu lebar 40 cm, panjang 40 cm dan kedalaman 60 cm.

"Boleh lebih, tapi jangan kurang. Itu berdasar pengalaman saya," ucap Haji Aleh.

"Saya pernah gagal (budidaya kopi), lalu berhasil dengan cara tadi," lanjut Haji Aleh.

Yang kedua adalah benih. Benih kopi tidak boleh sembarangan, karena akan sangat berpengaruh pada jarak tanam, teknik pemeliharaan dan produksi biji kopi yang nanti dihasilkan.

Benih kopi harus disesuaikan dengan lokasi lahan yang akan ditanami kopi.

Termasuk ketinggian lahan, kontur lahan, suhu dan jenis tanah.

Setelah Haji Aleh menggali tanah di lokasi pelatihan, ia kemudian memberi gambaran perkiraan benih kopi yang cocok ditanam.

Kunci sukses usaha kopi
Menurut Haji Aleh, sangat sulit untuk maju dan berkembang jika petani berusaha sendiri-sendiri.

Saran beliau, petani bahu-membahu dalam sebuah lembaga agar bisa berbagi tugas.

Dengan berlembaga menurutnya akan ada percepatan perkembangan usaha.

Karena jika hanya fokus budidaya, pemasaran akan terbengkalai.

Banyak faedah usaha 'berjamaah' yang disampaikan oleh Haji Aleh kepada para petani kopi di Pusakamulya.

Libatkan kaum milenial
Terakhir, Haji Aleh mengingatkan bahwa dunia ini sekarang adalah miliknya Kaun Milenial.

Teknologi yang ada saat ini sulit diaplikasikan oleh kaum 'kolonial', tapi sangat mudah bagi kaum milenial.

Tapi Haji Aleh juga mengingatkan agar tidak memaksa kaum milenial untuk terjun langsung dalam budidaya.

Kecuali atas kemauan mereka sendiri, biarkan mereka terlibat dalam usaha kopi di ranah yang mereka sukai.

Haji Aleh mencontohkan, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi tidak bisa dilepaskan dalam banyak usaha termasuk kopi.

Maka aspek teknologi tersebut serahkan pada kaum milenial, seperti pemasaran online hingga mekanisme logistiknya.

"Mereka terlibat (dalam usaha kopi) dengan cara mereka sendiri. Jangan dipaksa," tukas Haji Aleh. (bdr)

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post