Psikolog bilang, wanita baik-baik saja bisa selingkuh. Ini penyebabnya!


wanita-selingkuh
Foto: fixabay
"Dinamika (perselingkuhan) biasanya kurang-lebih sama antara perempuan dan laki-laki. Sama-sama mencari pemenuhan kebutuhan dari orang lain. Walau mungkin kebutuhannya bisa berbeda, tergantung individu," terang seorang Psikolog Klinis Dewasa, Anna Margaretha Dauhan.
PurwakartaOnline.com - Wanita baik-baik, bukan wanita nakal bisa saja ia selingkuh. Seorang psikolog bernama Anna Margaretha Dauhan berpendapat demikian, sebagaimana dilansir dari Tempo.co (9/1/2018).

"Perempuannya bukan berarti nakal atau tidak bisa menahan diri atau gimana. Tapi dalam perkawinan biasanya kalau tidak dipelihara, emotional intimacy-nya akan menurun," ujar Anna Margaretha Dauhan, seorang psikolog klinis dewasa dari TigaGenerasi kepada redaksi Aura yang dikutip oleh Tempo.co.

Selingkuh bahkan setelah punya anak
Kemudian ada yang mengejutkan, yaitu ternyata wanita selingkuh bisa saja terjadi setelah memiliki anak. Padahal pada umumnya dalam budaya kita di Purwakarta ini berpendapat sebaliknya.

Rumah tangga akan semakin kokoh dengan adanya kehadiran anak di tengah-tengah hubungan perkawinan. Sebaliknya, tidak adanya buah perkawinan, yaitu anak, justru akan membuat suasana perkawinan terasa kurang lengkap. 

Bahkan keyakinan banyak orang, tujuan pernikahan salah satunya adalah untuk mendapatkan keturunan. Pendapat ini sangat kuat ditengah masyarakat Purwakarta, karena ada alasan keagamaan dibelakangnya.

Punya anak malah rentan untuk selingkuh
Masih menurut Anna Margaretha Dauhan, setelah punya anak pasangan suami-istri malah lebih rentan untuk mengalami penurunan emotional intimacy.

"Biasanya setelah punya anak, biasanya pembicaraan, waktu dan energi suami-istri habis atau banyak tercurah ke situ. Kadang-kadang suami atau istri justru jadi terlupakan, lalu jadi longgar hubungannya, tidak dekat lagi secara emosi dan makin lama makin menjauh," lanjut Anna.

Saat wanita mencari kebutuhan dari orang lain yang bukan pasangannya
Terutama terutama wanita, penurunan emotional intimacy akan menimbulkan rasa kesepian, rasa jenuh dan bosan. Saat muncul simpati, perhatian dari seseorang yang bukan pasangannya, akan muncul rasa pemenuhan kebutuhan yang sebelumnya tidak didapatkan.

Saat itulah akan hadir rasa kenyamanan, mungkin awalnya ngobrol biasa dan terasa nyambung. Kemudian mungkin hubungan akan terus berkembang.

"Dinamika (perselingkuhan) biasanya kurang-lebih sama antara perempuan dan laki-laki. Sama-sama mencari pemenuhan kebutuhan dari orang lain. Walau mungkin kebutuhannya bisa berbeda, tergantung individu," terang Anna.

"Hanya saja biasanya bagi perempuan, intimacy secara emosi lebih penting terbangun terlebih dulu, barulah intimacy secara fisik." Tukas Anna.

Bagaimana menurut Sahabat Purwakarta Online, apakah setuju dengan pendapat psikolog Anna Margaretha Dauhan? Ditunggu komentarnya di bawah! (car)

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post