Kemarau panjang berakhir, dampaknya masih melanda. Daya beli masyarakat melemah!

Asep Dzuddin, petani di Pagaden Barat, Subang.
"Setelah kemarau berakhir kondisinya tidak seproduktif sebelumnya, perlu modal lagi untuk mengembalikan lahan dan tanaman agar sebaik kondisi sebelumnya," tukas Asep Dzuddin, petani di Pagaden Barat, Subang.
PurwakartaOnline.com - Seorang petani padi di Pagaden Barat, Kabupaten Subang, Asep Dzudin, menyatakan lambatnya laju ekonomi masyarakat dipengaruhi oleh kemarau panjang yang melanda.

Kondisi tersebut sangat berpengaruh besar karena tumpuan ekonomi mayoritas penduduk Indonesia berada di sektor pertanian.

"Penurunan produksi panen petani membuat daya beli sebagian besar petani melemah," ujar Asep Dzuddin kepada Purwakarta Online, Subang (7/11/2019).

Bukan hanya daya beli, menurut Asep, kemarau panjang juga berdampak pada kemampuan produksi petani pasca-kemarau panjang.

"Ada lahan yang tidak terairi, kemudian terbengkalai dan rusak. Atau tanaman yang tidak terpelihara karena gagal panen menurunkan kemampuan petani mengurus sawah dan kebunnya,"

Ada banyak tanaman yang rusak, lahan yang terbengkalai yang membuat petani harus kembali mengeluarkan modal tambahan agar produksinya kembali normal seperti sebelumnya.

"Setelah kemarau berakhir kondisinya tidak seproduktif sebelumnya, perlu modal lagi untuk mengembalikan lahan dan tanaman agar sebaik kondisi sebelumnya," tukas Asep. (enjs)

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post