Santri Purwakarta Juarai Bulutangkis tingkat Nasional, Ketua FKDT Purwakarta merasa bangga

Herman (paling kanan) merasa bangga atas prestasi tingkat nasional yang diraih Lutfi Lukmansyah (kedua dari kanan) pada cabang bulutangkis tunggal putra, dalam ajang Porsadin Nasional 2019

PurwakartaOnline.com - Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Purwakarta, Herman, S.Ag., merasa sangat bangga, pasalnya salah satu santri asal Kabupaten Purwakarta berhasil menjadi juara bulutangkis tunggal putra di tingkat Nasional.

"Bangga sekali, santri kita (Purwakarta) mengharumkan nama Jawa Barat di tingkat Nasional," ujar Herman kepada Purwakarta Online (16/11/2019).

Santri tersebut bernama Lutfi Lukmansyah berdomisili di Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta. Ia menjuarai badminton putra dalam ajang Porsadin tingkat Nasional dengan peserta dari 34 provinsi.

Lutfi Lukmansyah, santri asal Purwkarta raih prestasi Nasional. Menjuarai Bulutangkis Tunggal Putra, di Porsadin Tingkat Nasional 2019 di Bangka Belitung.

Porsadin digelar di Provinsi Bangka Belitung, pada tanggal 24 hingga 27 Oktober 2019. Dua peserta dari Purwakarta berangkat atas nama kontingen Provinsi Jawa Barat.

"Dua santri purwakarta berangkat atas nama FKDT Provinsi Jawa Barat. Lomba puisi dan bulutangkis tunggal putra," lanjut Herman.

Jawa Barat meraih Juara Umum Porsadin Nasional 2019
Provinsi Jawa Barat berhasil menjadi juara umum dengan mengumpulkan 16 medali, diantaranya 9 medali emas. Diantara 9 medali emas tersebut, satu medali emas disumbangkan oleh santri dari Purwakarta.

Herman menuturkan dirinya sangat bersyukur atas prestasi FKDT Jawa Barat sebagai juara umum Porsadin Nasional, ditambah lagi dengan kontribusi santri dari Purwakarta.

"Kebahagiaan berlipat. Pertama kita (Jawa Barat) Juara Umum. Kedua, santri kita (Purwakarta) berkontribusi medali emas," ungkap Herman dengan sumringah.

Herman memiliki keyakinan, bahwa potensi santri di Purwkarta masih banyak yang belum tergali. Prestasi yang diraih Lutfi menjadi bukti bahwa santri Diniyah pun bisa berprestasi di tingkat nasional meskipun bukan lembaga yang ditunjang BOP.

"Semoga event Porsadin menjadi perhatian Pemkab dimasa yang akan datang. Berangkat saja reongan (urunan biaya),"

"Prestasi santri Purwakarta jadi bukti, lembaga pendidikan tanpa BOP pun mampu bicara di tingkat nasional. Semoga ada perhatian Pemerintah (Pemkab) kedepannya." tukas Herman. (ezs)

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post