Tinjau dampak kemarau panjang, Dispangtan Purwakarta pulang bawa aspirasi

PurwakartaOnline.com - Kemarau panjang membuat kondisi tanaman merana, para petani resah. Potensial terjadi penurunan produksi komoditas perkebunan, bisa berefek pada melemahnya tingkat ekonomi dan sosial para petani.

kopi-cengkeh-manggis-petani-purwakarta-sentot-dispangtan
Sentot (tengah) dari Dispangtan Purwakarta, berbincang dengan Sadikin (kiri), Ketua Poktan Pusaka Mekar. Didampingi Vinny (kanan), staf Klinik Perkebunan Dinas Perkebunan Jawa Barat. Kiarapedes, Purwakarta (8/10/2019).

Sentot bersama Kukun Kurnia, Dui Saprina Ginting serta beberapa staf dari Bidang Perkebunan dan Hortikultura, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kabupten Purwakarta.

Tim ini mengunjungi beberapa Kelompok Tani Perkebunan, melakukan penelusuran tentang efek kemarau panjang terhadap tanaman perkebunan yang diusahakan oleh petani Purwakarta.

"Terutama efek pada psikologis petani itu sendiri, kita mau tahu dan kita dengar keterangan-keterangan mereka (para petani). Mengenai tanamannya itu nomor dua", terang Sentot kepada Purwakarta Online (8/10/2019), di Klinik Perkebunan Purwakarta-Subang, Kiarapedes.

Kemarau panjang tidak masalah
Berdasarkan penelusuran Sentot, petani tidak seresah yang ia perkirakan. Petani menurutnya merasa baik-baik saja, semangat petani sangat tinggi.

Masalah kemarau panjang, petani sudah berpengalaman di beberapa tahun sebelumnya yang juga sempat mengalami kemarau yang sangat panjang.

"Petani Alhamdulillah masih semangat, petani yakin hujan pasti turun. Justeru yang dipikirkan petani adalah bagaimana melanjutkan usaha taninya, bagaimana mendapat benih. Saat ini kondisi tanaman banyak yang mati. Ini peran kita (Dispangtan) hadir ditengah keresahan petani, mudah-mudahan bisa membantu pengadaan sebagian kebutuhan benih misalnya", terang Sentot semangat.

Apa yang dibutuhkan petani?
Apa yang sebenarnya dibutuhkan petani perkebunan, ternyata seputar usahanya.

Seperti petani perkebunan di Kecamatan Bojong, Apud Suwardi sedang mengusahakan keberlanjutan prosuksi teh gelang dan memerlukan teknologi pengolahan baru untuk menunjang produk tehnya.

Sedangkan di Kiarapedes, Sadikin juga sedang mengkoordinir petani anggotanya dalam pengemasan dan pemasaran teh tradisional. Meskipun banyaknya tanaman teh yang mati sedikit membuatnya resah.

"Ngagelang na kirang gancang, sanaos tradisional oge tetep peryogi alat / Menggiling (pucuk teh)-nya kurang cepat (jika menggunakan tangan), walaupun tradisional tetap membutuhkan peralatan", Sadikin berterus terang.

Sementara ketika Sentot bertanya mengenai kondisi tanaman teh di kebun, Sadikin mulai mengeluhkan banyaknya tanaman teh yang mati.

"Nyaeta seueur nu paraeh pa!" seru Sadikin kepada Sentot.

"Kami bantu fasilitasi kebutuhan benih teh ukuran 40-50 (cm) buat rehab. Tapi tidak bisa memastikan realisasi atau tidak ya Pak!", jawab Sentot.

Beda kelompok, ragam kebutuhan
Kelompok Tani perkebunan lain sedang berfikir keras untuk pengadaan benih kopi arabika untuk musim tanam 2019 ini.

Setalah dua tahun lalu mendapat lahan baru yang sesuai untuk penanaman kopi arabika.

Ada pula Kelompok yang membutuhkan benih untuk rehab tanaman cengkeh dan manggis.

Pola pemeliharaan dan cara panen, serta iklim membuat tanaman cengkeh mudah mengalami kematian, ini perlu pendampingan cara pemeliharaan dan panen yang baik.

"Kami (Dispangtan) akan coba fasilitasi. Mau komoditas cengkeh, manggis, teh atau kopi. Ada yang pengembangan, rehab atau pengolahan. Tapi pastinya petani dalam kondisi semangat. Itu yang penting!", ujar Sentot memberikan perhatian.

Pertemuan singkat sekitar setengah jam itu dimulai sekitar jam 15.30 sore, Sentot sebelumnya berkeliling ke beberapa kelompok tani perkebunan di wilayah selatan Purwakarta.

Mengakhiri 'roadshow' hari ini di petani teh Kiarapedes, Kelompok Tani Pusaka Mekar, Pimpinan Sadikin.

Sentot pamit untuk kembali ke Kantor Dispangtan Purwakarta. Sebelum beranjak keluar, hujan pun turun dengan derasnya. Barokah. (enjs)

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post