PurwakartaOnline.com - Bapak Sentot, Kepala Seksi Produksi Bidang Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan), kemudian Bapak Kusmana, Kepala Penyuluh Kabupaten Purwakarta, dan terkahir Imas Indriyani, penyuluh pertanian. Rela bersusah-payah berjalan menembus hutan, demi menemui petani yang sedang beraktivitas di hutan.
Diantar dari pemukiman oleh Za'enx, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Pusaka Tani dan Yayat Hidayat, Ketua Kelompok Tani Barong Mulya, mereka bertiga berhasil bertemu dengan beberapa petani yang sedang menanam kopi dan cengkeh.

Bapak Sentot, menyatakan rasa salutnya terhadap petani, yang setiap hari menempuh medan terjal dengan berbagai resiko dan rintangan yang Ia sendiri rasakan sangat tidak mudah. Kemudian para petani tersebut dengan telaten, menyiangi lahan dan bertanam komoditas perkebunan yaitu kopi dan cengkeh.
Bapak Kusmana (depan) diikuti oleh Bapak Sentot dan Imas Indriyani. Meniti jalan setapak penuh tanjakan di hutan, untuk melihat aktivitas petani di lapangan. Ternyata untuk sampai lahan, capeknya minta ampun.
"Luar biasa. Ini adventure!", Ujar Bapak Sentot, sambil terengah-engah kecapean saat tiba di perhentian pertama.

"Ternyata potensi kopi sangat besar di Purwakarta ini. Tinggal pemeliharaan, ini harus dipangkas, banyak yang harus direjuvinasi", ulas Bapak Kusmana, sambil memegang sebuah pohon kopi. Tubuhnya gemetar, karena belum 10 menit yang lalu ia terguling jatuh dari sepeda motor di sebuah tanjakan.
Imas (depan) tampak tabah menghadapi tanjakan yang tanpa ujung. Sedangkan Bapak Kusmana (belakang) mulai tertinggal, sambil pegangi pinggang teruskan perjalanan, baru saja terjatuh dari sepeda motor di sebuah tanjakan.
Meskipun terlihat payah, tapi Imas Indriyani masih tampak penasaran. Karena baru sampai pada lahan paling bawah, Masih banyak lahan petani di atasnya dan Ia mau lanjutkan perjalanan.

Tiba di perhentian kedua, sementara Imas dan Bapak Kusmana beristirahat dulu dan duduk di sebuah bangku kayu sederhana di lahan garapan Bapak Dede Warsid. Sedangkan, Bapak Sentot lebih dulu melanjutkan perjalanan ke lahan-lahan yang lebih atas ditemani Za'enx.
Imas dan Bapak Kusmana memilih untuk istirahat sejenak di bangku Warsid, sementara Bapak Sentot terus berjalan ditemani Za'enx
Setelah sejenak mengumpulkan tenaga, Imas dan Bapak Kusmana bersama Yayat Hidayat turut melanjutkan perjalanan. Keringat yang sedari tadi membanjiri seluruh tubuh, mulai disusul dengan keringat dingin.

Dari tatapan matanya, sepertinya Imas mulai merasakan pening dan berkunang-kunang. Tapi Ia masih sangat bersemangat untuk mengikuti Bapak Sentot yang terlebih dahulu berjalan bersama Za'enx.
Mata Pak Kusmana, tidak bisa lepas dari tanaman kopi. Sementara seorang petani tawarkan diri untuk memberi boncengan motor, tapi Bapak Kusmana lebih memilih berjalan kaki, alasannya untuk berolahraga melawan kolesterol. Kopi-kopi sisa tanam tahun 2009 yang dilewati sepanjang perjalanan, buat Ia greget untuk rejuvinasi dan sebagian lagi cukup dipangkas bentuk. Menurutnya kondisi tanaman kopi seperti ini tidak akan cukup produktif, tapi petani mengelak, mending tunggu sampai kopi yang baru ditanam produktif dahulu, baru kemudian tanaman lama direjuvinasi.
Tiba di perhentian ketiga, di sebuah saung sederhana beratapkan spanduk, Bapak Sentot dan Za'enx sudah bertemu dengan beberapa petani. Jika ingin berkumpul, petani biasanya berteriak bersahutan, saling memanggil.

Tanpa alas, Bapak Sentot, Bapak Kusmana dan Imas Indriyani duduk diatas tanah. Berbagi kopi dan rokok. Dan obrolan pun mulai mengalir.
Bercengkrama bersama petani di hutan dengan ketinggian 1.100 mdpl. Tidak mudah untuk sampai di lokasi, tapi sangat berarti bagi para petani di Purwakarta. "Orang dinas (pertanian) seperti ini yang membuat kami semangat", ungkap seorang petani.
"Alhamdulillah pak, ini kami difasilitasi LMDH Giri Pusaka, sehingga kami yang dari Barmoel (Kelompok Tani Barong Mulya) ini memang kekurangan lahan untuk bertani bisa mendapat lahan garapan. Selanjutnya kami tanam kopi Arabika dan cengkeh juga manggis, tapi kami mohon dikirim ahli budidaya yang mau membimbing kami. Agar caranya benar dari awal, mudah-mudahan kedepan hasilnya pun lebih baik", ungkap Yayat Hidayat curhat panjang-lebar.

Za'enx, selaku ketua KTH Pusaka Tani, membenarkan apa yang diungkap Yayat. Menurutnya, sayang jika semangat petani ini jika tidak disambut baik oleh Dinas terkait. Menurut Za'enx, sudah saatnya petani lebih apik dalam berusaha tani, tidak asal tanam. Jika bisa direkayasa agar lebih cepat berbuah kenapa tidak? Jika bisa lebih lebat, bukankah harus diupayakan.
Dalam perjalanan yang melelahkan, Imas Indriyani masih sempat memotret bunga kopi robusta yang tumbuh liar di hutan.
Bapak Sentot berfikir sejenak, kemudian mulai menimpali. “ Kami tidak ada anggaran khusus, tapi setelah datang ke sini, lihat kondisi petani di lapangan, Insya Allah kami akan berusaha memfasilitasi kebutuhan petani di sini. Entah nanti dari mana anggarannya”.

Obrolan semakin serius, waktu terus bergulir. Bapak Sentot menyatakan bahwa waktu yang Ia miliki cukup terbatas, masih ada Kelompok Tani Perkebunan di Kecamatan Kiarapedes yang hari ini akan Ia dan Tim kunjungi juga. Selanjutnya, Bapak Sentot dan Za’enx naik ke lahan yang lebih atas lagi, tepatnya ke lahan kopi Bapak Surwenda, Sekretaris LMDH Giri Pusaka. Konon lahan kopinya adalah kebun kopi yang paling terawat sejak tahun 2009 lalu mulai ditanami kopi arabika.
Bapak Kusmana berbagi tips budidaya tanaman perkebunan, kopi dan cengkeh. Terutama ilmu pangkas kopi, agar produktivitas tinggi.
Ponsel Za’enx berdering, dari lokasi wisata Ujung Aspal (Pasir Langlang Panyawangan) Bang Rojeb menelepon. “Liwet asak yeuh!”. Akhirnya, semuanya mulai turun gunung, beristirahat di atas tikar dibawah rindangnya pohon pinus, dengan belaian sepoi angin yang semilir mengelus-ngelus pipi.
Sebelum tim dinas meneruskan perjalanan ke kelompok tani selanjutnya, dilakukan pelemasan otot kaki dan menyantap liwet di lokasi wisata Pasir Langlang Panyawangan (Ujung Aspal).
Makan siang, bersama, menyantap liwet, cengkrama di akhir pertemuan hari itu. “Salut ka pagawe dinas (Pertanian). Segut, nyaan naek gunung. Salaku patani, urang bener-bener atoh dilongok ku pamarentah kieu”, ungkap Yayat Hidayat.

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post