PurwakartaOnline.com - Bagi orang Purwakarta yang pernah mengenyam mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) Bahasa Sunda, pasti pernah belajar tentang berbagai peribahasa sunda. Puluhan peribahasa yang harus dihafal dan beberapa diantaranya pasti muncul dalam ujian.

Entah sekarang pelajaran peribahasa tersebut masih diajarkan di sekolah atau tidak. Pastinya dulu penulis merasa pelajaran peribahasa adalah hal yang tidak begitu berguna dan sepertinya tidak perlu dipelajari.

Salah satu yang mengelitik adalah peribahasa 'Dagang oncom, rancatan emas'. Dulu dimaknai sebagai usaha yang modalnya sangat besar tapi tidak akan mendatangkan keuntungan yang sepadan. Oncom identik dengan bahan baku penganan murah, dijual tidak seberapa dan 'bati' atau keuntungan dari penjualannya juga pasti tidak akan besar. Sedangkan 'rancatan' adalah sebilah bambu (haur) yang biasa digunakan untuk memikul. 

Seiring berjalannya waktu, penulis mulai agak faham, rupanya peribahasa 'Dagang oncom, rancatan emas' itu adalah sebuah 'nubuat' para orang tua yang mampu melihat kondisi zaman yang akan datang.

Saat ini mulai bermunculan, para pedagang yang sepertinya sengaja, menjual barang dagangan murah tapi menggunakan alat atau sarana yang bernilai mahal. Kesannya jadi manarik dan tidak biasa.

Berikut adalah beberapa 4 gambar penampakan contoh nyata 'dagang oncom, rancatan emas' yang mulai bermunculan di sekitar kita:

1. Mahasiswi di Kalimantan Timur, jualan pakaian bekas 20 ribuan dengan 'rancatan' berupa mobil sedan bagus.
 2. Anjar Dedi Aji, jualan batagor dengan 'rancatan' sepeda motor sport Yamaha R-15 yang harganya mahal

3. Ibu-ibu jualan tutut rebus 5 ribuan dengan 'rancatan' mobil sedan, di Bogor katanya. Di Situ Buleud Purwakarta juga ada sih...

4. Tahu bulat 500-an 'Rancatan' mobil. Ini mah di mana-mana ada. 


your advertise here

This post have 0 comments

Next article Next Post
Previous article Previous Post