Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Deni Ahmad Haedari, Prabu yang sabelas-duabelas dengan Rakyat


Konon di Bojong ada seorang aktivis kepemudaan yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, sebut saja organisasi tersebut bernama GP Ansor, atau kalo setuju sebut Ansor saja.

Entah apa yang ada di benaknya, dengan segala kesempitan duniawi, ia masih saja setia dengan Ansor. Bermodal harapan bisa dekat dan khidmat kepada Ulama, ia biarkan kehidupan mengalir begitu saja.

Singkat cerita, melalui berbagai kegetiran untuk tetap berkhidmat, ia dipercaya pimpin Ansor di Purwakarta. Yang notabene, bertambah pula beban dan tanggung jawab yang mesti ia emban.

Seringkali, ketabahannya mampu meneteskan air mata orang-orang di sekelilingnya. Apa yang dilakukan melebihi kapasitas orang-orang yang berkecukupan saat itu, dan ia ikhlaskan segalanya demi Ansor.

"Mungkin dia terlalu terobsesi, tapi hasilnya memang luar biasa", ujar seorang pengurus NU Kecamatan.

Ketimbang berpangku-tangan, ia lebih memilih berjuang segenap jiwa-raga. Sapaèh na!!! Itu kata yang kerap terucap dari mulutnya, saat harus bangkitkan semangat rekan-rekannya.

Atas segala prestasi dan ihtiarnya yang diluar batas kewajaran, ia dipanggil Prabu oleh sahabat-sahabatnya. Mungkin ini hanya cemoohan halus, tapi apa ia peduli. Di dadanya hanya ada NKRI, NU dan Ansor.

Untuk kegiatan Ansor, mulai dari berjalan kaki tanpa alas kaki, dengan sandal jepit lusuh, kemudian pinjam sandal orang dan sekarang bermobil karena Ansor yang ia urus sekarang adalah se-Jawa Barat. Untuk Ansor, semangatnya tak pernah lusuh.

Sekarang, bukan hanya sebagai Ketua Ansor Jawa Barat. Ia juga didorong maju mencalonkan DPD RI, dengan nomor 43.

Satu-satunya calon DPD RI dari Purwakarta. Orang yang banyak dicemooh itu terus saja melenggang, lupa akan dirinya sendiri.

Terus saja menebar semangat, bertekad untuk terus bermanfaat bagi sesama. Dengan kapasitas yang kian maluas.

Deni Ahmad Haedari, masih bisa ditemui di sawah. Masih bisa buatkan liwet, saat ada sahabat-sahabatnya datang.

Masih bisa berkelakar dalam situasi apa pun. Berkelakar dengan bahasa rakyat, bahasanya kebanyakan orang.

Deni Ahmad Haedari adalah mata hati rakyat. Rakyat yang tak bersandal, rakyat bersendal jepit hingga rakyat yang 'turun-unggah' naik mobil.

Berlangganan via Email