:::Cerita Bersambung

Jam 9 malam adalah waktu dimana pengembaraan khayal bisa dimulai, itu berlaku untuk Si Kijing, atau mungkin berlaku juga untuk Anda wahai Pembaca yang terhormat. Kekuatan khayal bisa datang menguat seiring tekanan dan ketidakberdayaan yang saling mempengaruhi.

Ketidak-puasan kita akan keadaan, enggan menerima apa yang berlaku, ingin menghindar tapi tidak bisa, ingin melawan tapi takut lebih sakit. Semua ketidak-berdayaan ini, semua tekanan batin ini, akan mempengaruhi kekuatan khayal yang kita miliki.

***

Sekali-sekali ada pikiran, mungkin isterinya lebih baik dicerai saja. Tapi bagaimana dengan anak-anak? Si Kijing takut kesulitan atau kelak, Ia akan merasa segan untuk sekedar menemui anak-anaknya. Bukan masalah ekonomi, isterinya sudah terbiasa mandiri. Bersuamikan Si Kijing, sepertinya 'wajib' untuk mandiri secara ekonomi, jika tidak begitu, mau makan apa?

Ada perasaan yang 'mengganjal' hingga terbawa dalam pelarian ini, sikap dan perilaku isterinya yang kadang tidak lemah-lembut. Ada momen, Si Kijing perlu dihormati dan diturut oleh isterinya, tidak perlu setiap waktu, hanya saat tertentu saja. Saat mood-nya memerlukan kehangatan sikap seorang isteri. Ia adalah seorang suami, Ia merasa berhak atas sikap baik dari isterinya.

***

3 hari belakangan, Nyai Malati bergelayut-gelayut di ujung tatapan Si Kijing. Usianya mungkin 2 tahun lebih tua dari Si Kijing, tidak apa-apa. Selain punya kehangatan sikap, Si Kijing mungkin memerlukan penyaluran biologis terhadap Nyai Malati, ya manusiawilah....

Dalam alunan malam yang berayun kian kelam, mata yang terpejam menguatkan lamunan tentang gerakan sensualitas dua insan, Nyai Malati dengan dirinya.
Ilustrasi Nyai Malati. Sumber: yafi02.blogspot[dot]com

Hubungan intim, bukan hanya gesekan fisik dan sentuhan kulit dari pasangan laki dan perempuan. Ada aspek perasaan yang tidak bisa dilepaskan. Saat perlakuan isterinya kian buruk, hubungan intim tak ubahnya membuang penat atau sekedar iseng yang tidak lebih enak dari merokok Djinggo.

Si Kijing coba memejam mata lebiiiiih.....lama. Gerakan lembut, Nyai Malati bergerak lentur perlahan begitu niiiiiikmaaaaaat....ada niat untuk saling membahagiakan dalam setiap detik gerakan. 

Ini yang ku inginkan selama ini. Naik-turunnya Nyai Malati adalah momentum terbahagia sepanjang hayatnya....tidak mungkin ada yang lebih indah dan nikmat dari itu. 'Itu' yang dimaksud adalah kebahagiaan.

Kuatnya lamunan, bayangan yang 'sungguh nyata', saking kuatnya lamunan sehingga benar-benar Si Kijing merasa dalam keadaan bahagia. Ia lelaki, bukan hanya butuh dilayani, tapi sebagai lelaki ia juga perlu dituruti dengan rasa hormat oleh wanita. Ia perlu saluran untuk egoisme kelelakiannya.

***

Sikap hormat, sungkan, senyum, semua yang ia mau ada di Nyai Malati. Seringkali ia curi-curi pandang, melihat-lihat dengan penuh gelora dalam dadanya, paha, kaki, lengan, belahan payudara, gerai rambut di sisi pelipis, bibir yang menggoda.

Ingin sekali ia pergi, berlari melompat jurang. Ia ingin mati, saking inginnya mendekap Nyai Malati. Ia ingin jadi hantu, ia ingin kasat mata. Ia ingin menembus dinding rumah dan kamar Nyai Malati. Ia ingin menatap erat Nyai Malati saat terlelap, tanpa ia diketahui siapa pun, pun oleh Nyai Malati.

***

Saat pagi datang, ia mengutuk-ngutuk hari agar segera petang. Jam 9 malam mesti segera datang. Hanya sejak jam segitulah, Si Kijing bisa menggembalakan dengan liar lamunannya. Sebuah rasa yang sebenarnya sangat menyiksanya, tapi apa daya. Itulah sementara, jalan keluar yang bisa terpikirkan olehnya.

***

Dalam terik siang, dengan gahar, dengan rasa yang 'tidak enak' Si Kijing berpuisi. Tentang rasa cintanya yang brutal tak terkendali, setidaknya begitulah gelora dalam dadanya. Dalam secarik kertas kotor, dengan pensil jelek, inilah yang ia tulis:
_______________

Bagai rayakan agustusan di bulan Maret
Momentum ini seperti tak tepat
Ku temukan mu setelah ku putuskan bersama yg lain

Bagai sopiri mobil di jalan tol
Jalannya mulus, kantuk pun tak tertahan
Berjalan dengan mu ku rasakan bahagia
Tapi ini seakan bergandeng tangan menuju jurang kematian

Bagai memendam bakat terpendam
Mungkin tak 'kan ada orang mencibir
Tapi tak ada makna yang kan tergali
Kebersamaan kita tak kan jadi apa-apa
_______________

Jika ada angin puting beliung datang tiba-tiba, ada rencana Si Kijing untuk berterus terang, mengungkapkan rasa ketertarikan seksualnya kepada Nyai Malati. Karena dengan tatapan mesumnya, tidak sekali duakali, ia merasa dipergoki oleh Nyai Malati. Tapi, Nyai Malati tidak berubah sikap sedikit pun kepada Si Kijing. Sepertinya Nyai Malati bersedia ditatapi dengan mata mesum oleh Si Kijing.

Dengan dasar itu, ada sedikit sangkaan dan sedikit harapan dalam pikir Si Kijing. Bahwa Nyai Malati sudah tahu akan ketertarikan seksual yang ia miliki kepada dirinya, tapi jika pun benar bahwa Nyai Malati tahu bahwa ia tertarik secara seksual, apakah Nyai Malati akan bersedia melakukannya dengannya?

Jika Nyai Malati mau atau bahkan mungkin Nyai Malati pun punya hasrat yang sama, di manakah dan bagaimanakah caranya agara kami bisa aman melakukannya?

Tapi oooh....tidak! Bagaimana mungkin! Mata Si Kijing terbelalak hebat, kepalanya sakiiiiit tak tertahan. Di tengah lamunan binalnya, tiba-tiba muncul dalam pikirannya, wajah suami Nyai Malati, yaitu Adiwira, Kades Wanapoyi yang menolongnya, serta selama ini merawatnya, berminggu-minggu ini memberi tumpangan untuk tidur, makan gratis dan 'terapi' agar sembuh dari gangguan jiwanya.
your advertise here

This post have 0 comments

Next article Next Post
Previous article Previous Post