Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Si Kijing (8): Ingatan pada Nyai Malati kembali datang


 :::Cerita Bersambung

Jam 9 malam adalah waktu dimana pengembaraan khayal bisa dimulai, itu berlaku untuk Si Kijing, atau mungkin berlaku juga untuk Anda wahai Pembaca yang terhormat. 

Kekuatan khayal bisa datang menguat seiring tekanan dan ketidakberdayaan yang saling mempengaruhi.

Ketidak-puasan kita akan keadaan, enggan menerima apa yang berlaku, ingin menghindar tapi tidak bisa, ingin melawan tapi takut lebih sakit. 

Semua ketidak-berdayaan ini, semua tekanan batin ini, akan mempengaruhi kekuatan khayal yang kita miliki.

***

Sekali-sekali ada pikiran, mungkin istrinya lebih baik dicerai saja. Tapi bagaimana dengan anak-anak? 

Si Kijing takut kesulitan atau kelak, Ia akan merasa segan untuk sekedar menemui anak-anaknya. 

Bukan masalah ekonomi, istrinya sudah terbiasa mandiri. 

Bersuamikan Si Kijing, sepertinya 'wajib' untuk mandiri secara ekonomi, jika tidak begitu, mau makan apa?

Ada perasaan yang 'mengganjal' hingga terbawa dalam pelarian ini, sikap dan perilaku istrinya yang kadang tidak lemah-lembut. 

Ada momen, Si Kijing perlu dihormati dan diturut oleh istrinya, tidak perlu setiap waktu, hanya saat tertentu saja. 

Saat mood-nya memerlukan kehangatan sikap seorang istri. 

Ia adalah seorang suami, Ia merasa berhak atas sikap baik dari istrinya.

***

3 hari belakangan, Nyai Malati bergelayut-gelayut di ujung tatapan Si Kijing. 

Usianya mungkin 2 tahun lebih tua dari Si Kijing, tidak apa-apa. 

Selain punya kehangatan sikap, Si Kijing mungkin memerlukan interaksi lebih lagi terhadap Nyai Malati, ya manusiawilah...

Dalam alunan malam yang berayun kian kelam, mata yang terpejam menguatkan lamunan tentang bertemunya tatapan dua insan, Nyai Malati dengan dirinya.

Hubungan baik, bukan hanya dorongan saling berbagi senyuman manis dari pasangan laki dan perempuan. 

Ada aspek perasaan yang tidak bisa dilepaskan. 

Saat perlakuan istrinya kian buruk, hubungan rumah tangga tak ubahnya membuang penat atau sekedar iseng yang tidak lebih enak dari merokok Djinggo.

Si Kijing coba memejam mata lebiiiiih.....lama. 

Tatapan Nyai Malati begitu tajam perlahan begitu menusuk....ada niat untuk saling membahagiakan dalam setiap detik sisa hidupnya.

Ini yang ku inginkan selama ini. Bersama Nyai Malati adalah momentum terbahagia sepanjang hayatnya....

Tidak mungkin ada yang lebih indah dan nikmat dari itu. 'Itu' yang dimaksud adalah kebahagiaan.

Kuatnya lamunan, bayangan yang 'sungguh nyata', saking kuatnya lamunan sehingga benar-benar Si Kijing merasa dalam keadaan bahagia. 

Ia lelaki, bukan hanya butuh dilayani, tapi sebagai lelaki ia juga perlu dituruti dengan rasa hormat oleh wanita. 

Ia perlu saluran untuk egoisme kelelakiannya.

***

Sikap hormat, sungkan, senyum, semua yang ia mau ada di Nyai Malati. 

Seringkali ia curi-curi pandang, melihat-lihat dengan penuh harap di dadanya, lengan, gerai rambut di sisi pelipis, sikap ramah yang menyejukan.

Ingin sekali ia pergi, berlari melompat jurang. Ia ingin mati, saking inginnya bersama Nyai Malati. 

Ia ingin jadi hantu, ia ingin kasat mata. Ia ingin menembus dinding rumah dan kamar Nyai Malati. 

Ia ingin menatap erat Nyai Malati saat terlelap, tanpa ia diketahui siapa pun, pun oleh Nyai Malati.

***

Saat pagi datang, ia mengutuk-ngutuk hari agar segera petang. Jam 9 malam mesti segera datang. 

Hanya sejak jam segitulah, Si Kijing bisa menggembalakan dengan liar lamunannya. 

Sebuah rasa yang sebenarnya sangat menyiksanya, tapi apa daya. 

Itulah sementara, jalan keluar yang bisa terpikirkan olehnya.

***

Dalam terik siang, dengan gahar, dengan rasa yang 'tidak enak' Si Kijing berpuisi. 

Tentang rasa cintanya yang brutal tak terkendali, setidaknya begitulah gelora dalam dadanya. 

Dalam secarik kertas kotor, dengan pensil jelek, inilah yang ia tulis:


_________
Bagai rayakan agustusan di bulan Maret

Momentum ini seperti tak tepat 
Ku temukan mu setelah ku putuskan bersama yg lain

Bagai sopiri mobil di jalan tol 
Jalannya mulus, kantuk pun tak tertahan 
Berjalan dengan mu ku rasakan bahagia 
Tapi ini seakan bergandeng tangan menuju jurang kematian

Bagai memendam bakat terpendam 
Mungkin tak 'kan ada orang mencibir 
Tapi tak ada makna yang kan tergali 
Kebersamaan kita tak kan jadi apa-apa
________

Jika ada angin puting beliung datang tiba-tiba, ada rencana Si Kijing untuk berterus terang, mengungkapkan rasa ketertarikan dirinya kepada Nyai Malati. 

Karena saat mencuri tatapan tidak sekali duakali, ia merasa dipergoki oleh Nyai Malati. 

Tapi, Nyai Malati tidak berubah sikap sedikit pun kepada Si Kijing. 

Sepertinya Nyai Malati memang bersedia ditatapi oleh Si Kijing.

Dengan dasar itu, ada sedikit sangkaan dan sedikit harapan dalam pikir Si Kijing. 

Bahwa Nyai Malati sudah tahu akan ketertarikan yang ia miliki kepada dirinya. 

Tapi jika pun benar bahwa Nyai Malati tahu bahwa ia tertarik, apakah Nyai Malati akan bersedia hidup berasama dengannya?

Jika Nyai Malati mau atau bahkan mungkin Nyai Malati pun punya hasrat yang sama.

Di manakah dan bagaimanakah caranya agar kami bisa aman melakukannya?

Tapi oooh....tidak! Bagaimana mungkin! Mata Si Kijing terbelalak hebat, kepalanya sakiiiiit tak tertahan. 

Di tengah lamunannya, tiba-tiba muncul dalam pikiran, wajah suami Nyai Malati, yaitu Adiwira.

Kades Wanapoyi yang menolongnya, serta selama ini merawatnya.

Berminggu-minggu ini memberi tumpangan untuk tidur, makan gratis dan 'terapi' agar sembuh dari gangguan jiwanya.

:::bersambung

Berlangganan via Email