:::Cerita Bersambung

Suatu ketika, Si Kijing merasa bosan diam di rumah Adiwira, Kades Wanapoyi. Cari angin segar, berjalan-jalan di sekitar kampung. Hingga sampailah di sebuah rumah gubuk tua, di dalamnya ada sepasang suami-isteri muda.

“Assalamu’alaikum...”, salam Si Kijing depan pintu.

“Wa alaikum salaaaam....”, sahut Pamela, sambil menghampiri pintu. “Punten, sareng saha? Bade ka saha?”, tanya Pamela, setelah membuka pintu.

“Ah, abdi Kijing. Euuuuh.....dupi ieu bumi saha?”, terhenyak Si Kijing, bingung menjawab. Sadar bahwa ia tidak punya keperluan apa pun, akhirnya terpaksa Si Kijing balik bertanya.

“Ieu bumi Armando, caroge abdi....euuuuh...dupi kaperyogian na naonnya?”, agak curiga, Pamela kembali bertanya. “Kaaaaang....aya tamu!”, belum Si Kijing menjawab, Pamela berteriak panggil suaminya.

Si Kijing merasa terjebak sendiri, ingin rasanya pergi atau lari. Tapi takut disangka pencuri atau orang jahat.
ilustrasi. sumber: google.com
Armando, tuan rumah tiba di pintu. Tanpa banyak bertanya, Armando persilakan Si Kijing untuk masuk dan menyuruh isterinya untuk membuatkan minum.

Tanpa kenalan, Armando dan Si Kijing tenggelam dalam obrolan basa-basi yang hangat dan penuh empati. Jam berganti.

Obrolan hangat dalam bahasa yang sangat sopan, tentang ketimpangan sosial, jam berganti.

Obrolan hangat dalam bahasa akrab, saling bercerita pengalaman pahit kehidupan masing-masing, jam berganti.

Obrolan mulai panas dalam bahasa kasar mulai keluar, mereka berdua bagai kawan akrab yang sebangku sejak SD. Makin panas lagi, obrolan tentang betapa gobloknya pemerintah, sehingga membuat mereka berdua hidup miskin dan menderita. Hari telah malam.

Pamela mulai tak sabar, berkali-kali kode pada suaminya tidak juga mendapat respon. Tamu yang baru dijumpainya, seakan tidak akan pernah pulang untuk selamanya.

Suara-suara aneh mulai dibikin dari dalam dapur, Pamela mencuci piring dengan sangat tidak hati-hati. Sengaja, agar Suami dan Tamu sadar bahwa saat itu hari sudah tengah malam.

“Aduh kang, tos wengi ningan. Hapunten kaganggu, abdi permios!”, ujar Si Kijing memotong pembicaraan. Si Kijing mulai menyadari, di dapur piring-piring, panci, gelas, sudah beradu sedemikian kencang dan membuatnya tak nyaman. Ia pamit.

“Yeeeeh....enggal-enggal teuing! Atos weh kulem di dieu! Hawartos tos wengi kieu”, pungkas Armando basa-basi.

Sebelum beranjak, Si Kijing meminta sebatang lagi rokok untuk menemaninya di perjalanan pulang ke rumah Pak Kades. Sementara itu, Armando memberanikan diri meminta amalan, ia rupanya tertarik tentang do’a untuk kaya yang telah Si Kijing ceritakan panjang-lebar.

Si Kijing menuliskannya dalam sehelai kertas, dengan aksara latin. Agar do’a bisa dibaca dan dihapalkan oleh Armando. Dengan telaten, Si Kijing menjelaskan tata cara mendawamkan do’a tersebut.

Armando sangat berterima kasih kepada Si Kijing, ia berjanji tidak akan lagi berdo’a sembarangan. Ia bertobat. Ia berjanji untuk semangat berzakat, berjanji untuk bersemangat naik haji.

Armando menyesal tidak mau mengaji waktu kecil, ia telah membangkang kepada kedua orang tuanya. Akibatnya ia meraba-raba dalam beragama, ia gunakan akal tapi tidak pernah merasa puas dan tidak pernah pula merasa yakin.

Sekali waktu, saat baru menikahi Pamela, Armando pernah sekali ikuti ceramah agama mingguan, kala itu Ustad membahas Rukun Islam. Didengarnya kata Pa Ustad, jika harta telah mencapai sekian (nisab), maka wajib mengeluarkan zakat sekian. Setelah itu ia tak tertarik lagi datang untuk mendengar ceramah Ustad, lantas berajin-rajin berdo’a agar tidak kaya, sehingga tidak terkena kewajiban mengeluarkan zakat.

Karena mendapat pencerahan, Armando bertanya beberapa hal lagi kepada Si Kijing. Masih mengenai agama, Ia yakin telah berprasangka tidak benar kepada Ustad-ustad di kampungnya.

Si Kijing memungkas, lalu menjelaskan bahwa zaman sekarang memang ada Ustad-ustad kurang ajar. Kemudian menjabarkan fenomena Ustad palsu yang beberapa tahun ke belakang sempat merebak.

Terdengar di belakang rumah, suara tali timba berderit-derit. Pamela shalat shubuh. Beberapa saat kemudian membuka gorden putih berkain carang dan bolong-bolong.

Beberapa jam kemudian, Pamela membawa dua gelas kopi dan pisang goreng.

Setelah kopi habis diminum. Pisang goreng ludes dimakan. Si Kijing kembali pamit untuk kesekian kalinya. Walaupun kepalanya pusing bukan main, tapi hatinya puas.

Si Kijing merasa telah memberikan pencerahan kepada seseorang yang memang perlu diberi pemahaman tentang kehidupan yang benar. Ia melewati pintu, berjalan pulang penuh kebanggaan dalam hatinya.

“Saha eta teh kang? Jalema teh namu teu kira-kira, ti kamari burit nepi ka beurang kieu. Nya teu solat-solat....”, omel Pamela sesaat setelah pintu rumahnya ditutup.

Kantuk Armando terlalu hebat, bulu matanya sudah teranyam rapat, walapun badannya masih berdiri. Ia tak mampu mendengar, apalagi menjawab pertanyaan isterinya.

Armando menjatuhkan diri di ranjang, dengan posisi badan diagonal, menyilang ranjang. Ngorok sekencang-kencangnya...menggema, menggetarkan seisi rumah panggungnya.

***

Si Kijing merasa harus belusukan lagi, ia berencana setelah sampai di rumah Pak Kades ia akan segera makan, lalu tidur dulu sampai ashar. Setelah bangun, makan lagi, lalu kembali blusukan mencari keluarga yang memerlukan pencerahan darinya.

Sementara Si Kijing tidur pulas dan Pamela sibuk mencari ranting  di kebun Pak Kades, untuk kayu bakar.

Warga sekampung dihebohkan, sebuah rumah gubuk ludes dilalap api. Seorang laki-laki tewas terpanggang, saat tidur lelap di siang bolong.
your advertise here

This post have 0 comments

Next article Next Post
Previous article Previous Post