Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Si Kijing (4): Romantisme masa lalu



:::cerita bersambung

Cerita sebelumnya:
Si Kijing (3): Pemberontakan dan Ngintip Mahasiswi Mandi di Sawah

___________

Disela isapan udud, Si Kijing yang lagi bersandar santai, menelusup masuk ke alam lamunan. Terbuka kembali apa yang telah terlewati dalam hidupnya selama ini. Tarikan nikotin membuai ketenangan pikiran, teringat jelas ia lihat dalam lamunan, kala ia telentang bersandar mesra di paha istrinya. Kala itu, istrinya menagih romantisme yang tak jua datang meski cinta mereka berbuah anak.

"Akang mah meni tara siga batur, ka pamajikan tèh meni cu'ek," keluh istrinya kala itu.

"Cu'ek kumaha ai manèh?" tanya Si Kijing mengejar pernyataan istrinya.

"Nya romantis atuh kang! Batur gè ningan sok gogombalan... ieu mah meni teu krèatip, euweuh kahayang,"

"Ti mèmèh kawin nepi ka budak hiji meniiiiii.....euweuh romantis-romantis na pisan!" jelas istrinya, panjang-lebar, sembari manyun-manjah.

"Ai manèh, ngomong tèh tara jeung adeuh. Kumaha disebut teu romantis. Èta budak kaluar hiji?! Èta pan buah ti na romantis," kilah Si Kijing tidak mau disalahkan.

:::kerinduan si kijing

Ada semilir kerinduan datang, yang entah bagaimana, saat dimana pun Si Kijing sembunyi, kerinduan itu selalu saja bisa menemukannya. Ia benar-benar tidak bisa sembunyi dari kerinduan. Sungging senyum di ujung bibir Si Kijing, segera disusul linangan air mata.

Lamunannya kembali berkembang, beralih pada apa yang disebut dengan perjuangan! Ia sedikit terinspirasi oleh Che Guevara di Amerika Latin sana. Dan kini Ia akan segera persiapkan pemberontakan, "Wanapoyi 25 tahun ke depan harus merdeka!" Begitu gumam dalam hati Si Kijing.

Seketika kemudian, kerinduan kembali alihkan benaknya pada ingatan akan istrinya. Kala itu, oleh istrinya ia dituduh tidak romantis. Padahal di saat bersamaan sebetulnya ia merasa dirinya merupakan sosok pria yang sangat romantis. Hanya saja memang, tidak dibarengi dengan gombalan.

"Gombalisme itu hal yang tak perlu, terlalu dekat dengan kebohongan. Entah kenapa seorang wanita berharap digombali?" keluh dalam hati Si Kijing bertanya-tanya, heran.

Padahal gombalisme, sudah bikin rakyat 'kenyang' bukan kepalang. Bayangkan saja, ada seorang gubernur naik tahta dengan taktik gombal seperti itu. Saat kampanye bikin citra anti-china, pas terpilih segera bekerja sama dengan 'china'. Biasa saja, kan 'gombalan politik' namanya juga.

Kemudian, dunia baru saja diberi tontonan gombalisme politik tingkat internasional. Si Trump tuh, dengan gombalan politik hembuskan sentimen anti-arab, anti-islam. Islam seakan adalah arab dan arab adalah islam.

Pendukung Trump

Berefek atau tidak pada suara pilpres AS. Pastinya banyak pendukung Donald Trump berpose seksi dan viral. Lantas apa yang terjadi, setelah kemenangan pemilihan presiden di Amerika Serikat. Si Trump ini berkunjung pertama kali adalah ke Arab. Ke negeri yang saat kampanye seakan dimusuhinya.

Saat teringat istri, senyum dan air mata datang silih berganti, kadang datang bersamaan. Saat itulah, orang-orang Desa Wanapoyi semakin sedih, iba melihat kondisi 'orang asing gila' ini. Abah Dumadi belum bisa berbuat banyak. (*)

:::bersambung

Cerita selanjutnya:
Si Kijing (5): Meraih mesra Nyai Arsawati

Berlangganan via Email