--- Cerita Bersambung ---


Badannya sakit tak terkira, kantuk telah benar-benar menguasai sepenuhnya. Si Kijing tak peduli di rumah siapa ia berteduh dan membaringkan tubuh. Ingin berterima kasih, tapi baru sebatas dalam hatinya. Ujung jari-jari tangannya keriput, entah berapa jam Si Kijing berkendara di belantara, dalam kondisi hujan lebat, sepeda motornya berkali-kali terjungkal.

Foto Ilustrasi
Dalam kondisi itu, hipotermia jadi ancaman yang membahayakan, hipotalamus di otaknya mengirimkan kode sehingga tubuhnya menggigil hebat. Mungkin beberapa jam lagi jantungnya akan gagal berfungsi atau mungkin sistem pernafasannya terganggu dan akhirnya mati kedinginan. Akankah Si Kijing mati seperti para penumpang kapal Titanic? 

*** Tubuhnya menghangat ***

Tiba-tiba tubuhnya terasa hangat, hatinya pun demikian. Rasanya ada seorang perempuan yang memeluknya dari belakang, Si Kijing diam saja. Kepalanya terlalu sakit untuk berpikir.

Hanya saja, entah sejak berapa lama, ia lupa bagaimana rasanya dicintai seseorang. Si Kijing kehilangan arah hidup, tidak tahu lagi apa yang ia suka dan apa sebenarnya yang ia ingini dalam hidup ini. Segalanya hampa. 

Beruntung, seseorang telah menolongnya, jika saja tidak, tubuhnya akan mati terbujur kaku di dalam jurang. Di bawah guyuran lebat air hujan, meskipun ia telah pasrah jika pun harus mati saat itu juga.

*** Lubang Papan ***

Dengan penuh rasa sakit di sekujur badan, Si Kijing hendak ke kamar mandi untuk buang air kecil.

"Aaaargh....!!!", teriak Si Kijing dikejutkan oleh rasa sakit di lengan kirinya.

"Tong hudang...!!", seketika seorang perempuan berteriak dari arah dapur. Kemudian menghambur meninggalkan hawu (tungku) dan mengampiri Si Kijing.

"Akang, ulah waka gugah! ku Nyai tos dibalur. Siga na panangan akang misalah, tadi wengi akang tigebrus ka na jurang" Ujar Si Perempuan, sambil membetulkan posisi tidur Si Kijing. 

Dengan telaten, digeserkannya bantal kapuk agar pas dengan posisi kepala Si Kijing. Si Kijing hanya diam seribu bahasa, sudut matanya mulai basah dan melinangkan air mata. Tak pernah ia dapatkan perhatian yang seperti ini sebelumnya. Pun saat dulu Ia sakit parah, isterinya hanya sibuk sendiri.

Kemudian jari telunjuk Si Perempuan, menunjukan sebuah lubang di lantai papan sebesar bola ping-pong. Beberapa jengkal dari tempat Si Kijing terbaring. Rumah panggung tua yang diisi perempuan sebatang kara, yang telah berlubang. Membuat praktis jika ingin buang air kecil, Si Kijing hanya perlu sedikit bergeser, telungkup dan memasukannya.

"Punten 'Neng, ieu tèh di mana?", tanya Si Kijing, sambil meringis kesakitan. Tapi mata lelakinya masih sempat terpicing untuk mengintip kecantikan perempuan di depannya itu.

"Akang, ieu tèh di leuweung sukma. Atos bobo deui wèh! Misalah na bilih robih deui.", jawab Si Perempuan singkat.

"Ari 'nèng tèh saha? Sareng saha nu nyandak abdi kadieu?", lanjut Si Kijing bertanya.

Rasa penasaran tak sanggup ia bendung lagi. Ia pikir bapa atau suami si perempuan telah menolong dan membawanya ke rumah panggung ini.

Foto hanya ilustrasi, diambil dari 'kumpulan foto bali jaman doeloe'.

"Nami abdi Arsawati kang. Abdi nu nyènyèrèd akang ti jurang tadi wengi", jawab Si Perempuan sambil pamit kembali ke tungku. Setelah sebelumnya menjelaskan bahwa ia tinggal sendiri di tengah hutan belantara ini. Tidak ada orang lain, selain dirinya di hutan. 

Si Kijing tertegun bagaimana mungkin seorang perempuan tinggal sendiri dalam hutan belantara seperti ini. Sepertinya tidak mungkin, tiba-tiba mulutnya terasa asam, Si Kijing ingin merokok. 

"Mun bener eta awewe ngomong, bahaya dekah! Berarti euweuh warung di dieu mah?", hatinya bergumam, tangannya mencari-cari lubang saku baju yang ia kenakan terkahir kali. Berharap ada rokok yang masih tertinggal.

*** Bau Amis Ikan Mas ***

Banyak hal ingin ia tanyakan. Tapi sejenak ia tahan. Obrolan Si Kijing dengan benaknya sendiri langsung terhenti, saat bau amis ikan mas tiba-tiba tercium. 

Ia tengok keluar rumah, tidak ada empang. Mungkin saja Si Perempuan tadi sedang memasak ikan mas. Kembali dalam hatinya tak henti-henti bicara sendiri.

Ia pikir, nama perempuan itu aneh. Baru ia dengar, lalu lupa lagi. Lebih aneh lagi cara berpakaiannya yang lebih mirip cara berpakain wanita dalam cerita-cerita di abad lampau. Tapi sangat seksi menurutnya, dan Si Kijing mulai berandai-andai.

*** Kalimat Bijak ***

Pikirannya mulai menerawang lagi, jauh di bertahun-tahun ke belakang. Suatu ketika, saat terporosok ke dalam palung kekalutan, lantas ia menemukan kalimat bijaksana yang berbunyi 'mengorbankan diri untuk kepentingan orang lain adalah jalan menuju kebahagiaan'. Seperti menemukan inspirasi.

Sejak itulah Si Kijing banyak berkorban dengan apa pun yang ia miliki. Waktu berlalu, orang-orang pun menjadi terbiasa mengorbankan Si Kijing dalam banyak hal. Kebahagiaan belum jua ia rasakan, lalu kepada siapa ia harus menagih? Ia lupa siapa guru yang mengajarkan kalimat bijak itu, dari waktu ke waktu ia semakin terpuruk dan lelah.

*** Berkelana seperti di film persilatan ***

Tahun-tahun berselang, hingga akhirnya Si Kijing berniat untuk berkelana beberapa hari di sebuah hutan belantara. Seperti di film-film layar tancap yang suka ia tonton saat remaja dulu. Dengan maksud untuk mendinginkan jiwa, meresapi alam dan menemukan dirinya kembali. 

Mungkin saja di hutan sana, ia temukan sebuah gubuk yang didalamnya tinggal seorang kakek tua berjenggot dan berjubah putih. Lalu mengajarkannya sebuah ilmu dan akhirnya ia pun menjadi orang sakti atau paling tidak ia mendapatkan ilmu kebijaksanaan untuk mengarungi hidup ini.

Ia telah muak dengan tagihan-tagihan, ajakan bisnis-bisnis yang misterius tanpa realisasi, muak dengan omelan dan tuntutan isteri, muak dengan kehidupan yang sepertinya tidak menyediakan ruang untuknya bahagia.

Si Kijing menyesali hidupnya yang tidak berjalan baik, tidak seperti jalan cerita di Sinetron-sinetron picisan. Yang mana, masa sulit hanya muncul di episode-episode awal, kemudian segalanya berubah dengan ajaib dan penuh keberuntungan.

Dengan sepeda motor kreditan yang belum dibayar selama tiga bulan lebih, ia pun bergegas pergi. Lolos dari pantauan debt kolektor yang telah berminggu-minggu mengintainya. Menuju sebuah hutan belantara, berbukit, berjurang yang konon sangat angker. 

Sebuah hutan nun jauh berpuluh kilometer dari pemukiman, tanpa akses jalan yang layak untuk didatangi atau hanya sekadar dilewati. Jalan berbatu hanya mengantarnya sampai tepi belantara, selanjutnya jalan tanah setapak berlumpur.

Sebuah tempat yang konon memiliki area ghaib, dimana siapa pun orang yang beruntung menemukannya akan lupa pada kehidupan sebelumnya dan memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya di tempat itu. Tempat yang sangat damai, dengan segala kecukupan dari apa pun yang diinginkan manusia. Orang-orang menggambarkannya seperti surga di kitab-kitab.

*** Wedang di Batok Kepala ***

Lamunannya akan masa-masa ke belakang sirna sekejap, saat Nyai Arsawati datang membawa wedang di batok kelapa. Saat itu fokus Si Kijing hanya dua; Pertama fokus mata, Fokus matanya ke wedang di cangkir batok kelapa yang sepertinya akan segera ia minum. 

Kedua adalah fokus kepala, kepalanya fokus berpikir, bagaimana caranya agar mendapat kesempatan untuk menjelajahi tubuh Nyai Arsawati. Ia perhatikan dari mulai ujung kaki, hingga ujung kepala. 

Kulit Nyai Arsawati yang coklat gelap, lekuk tubuhnya yang sintal, manis raut wajahnya yang aaah.....entah apa lagi yang ada di kepala Si Kijing, emosi negatifnya menggelinjang tak tentu arah.

Singkat cerita, Si Kijing minum wedang. Rasanya sangat pahit, hampir ia muntah, ulu hatinya sakit menahan mual yang sangat. Rupanya yang ia minum bukan wedang biasa.

*** Siuman ***

Siuman dari pingsan, satu hari berlalu tanpa ia sadari. Otaknya seperti bergerak berlarian tak tentu arah, ia mulai ingat HP, ingat sepeda motor, ingat anak, ingat facebook, ingat isteri, ingat ibunya, ingat guru-gurunya, ingat cinta pertamanya. 

Ingat bahwa bukanlah gurunya yang mengatakan bahwa 'Jalan kebahagiaan adalah dengan cara mengorbankan diri untuk orang lain', melainkan adalah sebuah tulisan di buku Teka-Teki Silang (TTS) milik seorang pegawai dinas yang ia temui di sebuah instansi pemerintah.

Seorang pemilik warung memberinya minum teh manis hangat, ia heran rupanya ia telah berada di tengah perkampungan. Ia dapat melihat dirinya sendiri dalam pikiran, sehari sebelumnya ia minum wedang di batok kepala manusia. Lalu tak sadarkan diri. 

Orang-orang mulai berkerumun, seorang kakek dipanggil. Kerumunan terbelah memberi jalan, kakek tersebut membacakan mantera-mantera. Kemudian menyuruh Si Kijing memeriksa kemaluannya sendiri, saat ditengok ke dalam calana ia melihat kemaluannya bengkak dan memerah.

Bersambung ................... 

your advertise here

This post have 0 comments

Next article Next Post
Previous article Previous Post