Kang Dedi, dalam acara Temu Penyuluh dan Petani Andalan. Di Tajug Gedè, Cilodong, Bungursari, Purwakarta (27/2/2019).

PurwakartaOnline.com - Mantan Bupati Purwakarta, H. Dedi Mulyadi, SH., selaku Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Tajug Gedè, memberi sambutan dalam acara 'Temu Teknis Penyuluh dan Petani Andalan' di Cilodong, Bungursari, Purwakarta (27/02/2019).

Secara mengejutkan Ia bercerita soal 'kanjut'. Menurutnya dalam bahasa sunda kata 'kanjut' tidak perlu dianggap tabu. Karena itu adalah bahasa keseharian, jangan sampai punah karena tidak digunakan lagi. Banyak peribahasa sunda yang menggunakan kata 'kanjut' dan itu bersifat lumrah.

"Kanjut dina tarang, arti na èraan. Kanjut na punduk, arti na sieunan. Ngetrukeun eusi kanjut, arti na ngawinkeun budak pangbungsu na. Mun penyuluh nyandung? Nu kitu ngaran na 'hambur kanjut'!", seloroh Kang Dedi (sapaan akrab H. Dedi Mulyadi, SH.,) disambut tawa hadirin yang terdiri dari penyuluh, petani dan santri tani.

Pada kesempatan itu Kang Dedi menyatakan usulan kepada Kementerian Pertanian RI, agar pelajaran sekolah menggunakan metode terapan. Misalkan pelajaran Biologi, siswa diberi tugas untuk mengamati jam berapa domba berak (mengeluarkan feses).
Next article Next Post
Previous article Previous Post