-->

Thursday, November 16

Memahami orang gila (2): siapa yang beresiko terkena sakit jiwa?

Memahami orang gila (2): siapa yang beresiko terkena sakit jiwa?

Ilustrasi. Foto: google.co.id

PurwakartaOnline.com - Rada sering ketemu orang gila sekarang mah, kalo lewat ke Wanayasa. Sekitar 2 sampai 3 orang gila. 

Perasaan baru beberapa tahun ke belakang, berkeliaran orang gila di jalanan. Konon, buangan dari daerah lain. Orang gila kok dibuang sembarangan? Siapa yang buang???

***
Pertama kita ucapkan bela sungkawa untuk penderita beserta keluarganya, karena bagaimana pun kondisi ini samasekali tidak pernah kita harapkan terjadi pada keluarga kita dan keluarga siapa pun.

Lanjut, masih meneruskan bahasan sebelumnya, Memahami orang gila (1): penderita gangguan jiwa penggal kepala kakak kandung di Tuban.

Masih bersama Virginia Prameswari yang aktif nulis di zenius.net yang sekarang kita ambil pendapatnya artikel Virgie dari artikel di web tersebut. Tentang siapa yang beresiko terkena penyakit jiwa?

****

Schizo bisa menyerang siapa saja. Ini adalah gangguan mental yang tidak memandang ras atau jenis kelamin. Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengidap schizophrenia.


1. GenetikSeperti gangguan mental lainnya, genetik cukup berperan dalam schizophrenia. Salah satu bukti yang mendukung genetik mengambil peran dalam schizophrenia adalah berbagai studi pada bayi kembar identik.

Studi tersebut menyimpulkan bahwa pada bayi kembar identik (monozigotik, berasal dari satu sel telur), jika salah satu menderita schizophrenia maka kemungkinan saudara kembarnya untuk menderita schizophrenia adalah 50%.

Dengan kemajuan teknologi dan berbagai sistem untuk menganalisa genome atau gen kita, muncullah beberapa nama gen yang menjadi topik menarik untuk memahami schizophrenia, diantaranya DISC1, PDE4B, NCAM1, dan lain sebagainya.

Penelitian masih berlangsung untuk memahami peranan gen ini dalam proses patologi schizophrenia. Harapannya, dengan semakin mendalami bagaimana mereka bekerja dan berinteraksi dengan lingkungan, kita bisa mencegah atau mengobati penyakit ini.

2. Faktor LingkunganPerlu diingat bahwa genetik tidak berdiri sendiri. Faktor lingkungan, seperti stres berat dan gangguan pada proses persalinan yang pada akhirnya berinteraksi dengan faktor genetik ikut berperan.

Studi epidemiologi menunjukkan hubungan antara komplikasi saat persalinan dengan schizophrenia. 

Komplikasi saat proses melahirkan (ya bisa dibayangkan kan sulitnya bersalin pada sebagian orang dan sebagian lagi mudah-mudah saja) bisa menyebabkan pendarahan dan kekurangan oksigen. 

Jika komplikasi ini terjadi dan berjalan cukup lama sampai timbul gangguan maka bisa menjadi salah satu faktor si bayi untuk menderita schizophrenia ketika dewasa.

Penelitian lain juga menyebutkan bahwa anak yang lahir dalam cuaca banyak penyakit (let’s just say, musim dingin di luar negeri dan musim batuk pilek di Indonesia), lebih rentan terkena virus. 

Bisa diasosiasikan infeksi virus atau bakteri pada ibu hamil dan bayi meningkatkan resiko terjadinya schizophrenia pada usia dewasa.

Kalo udah tahu gini, para pembaca zenius yang nantinya akan berkeluarga, jangan lupa untuk menjaga kesehatan pribadi dan lingkungan, apalagi kalau sedang hamil ya. 

Selain bisa menyerang tubuh kita (fisik); kuman, virus, atau mikroorganisme lainnya bisa secara tidak langsung menyerang pikiran kita.

3. Faktor Kejeniusan?

Sejak film Beautiful Mind dirilis, mulai banyak pihak yang mengaitkan schizophrenia dengan kejeniusan. 

Apakah orang schizophrenia itu jenius? Atau orang jenius itu ada kecenderungan untuk schizophrenia?

Ide yang mengaitkan schizo dengan kecerdasan mungkin pertama kali berasal dari sebuah studi pada tahun 1970 di Islandia yang mencentuskan hipotesis bahwa ada beberapa gen-terkait-schizophrenia yang berperan dalam stimulasi otak atau, dengan kata lain, meningkatkan intelegensi seseorang.

Akan tetapi, studi pada beberapa tahun terakhir malah menunjukkan hal sebaliknya, di mana schizophrenia menyebabkan penurunan fungsi hipokampus, gangguan sinyal saraf, atau dengan kata lain penurunan kecerdasan. 

Jadi mana yang benar? Yah, para ilmuwan masih berdebat soal ini. (hfz)

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2020 Purwakarta Online | All Right Reserved