Tani tak pernah rugi. Nasihat orang tua versus teori ekonomi Adam Smith

PurwakartaOnline.com - Ada peribahasa orang tua, ' Tani mah moal pernah rugi'. Peribahasa yang sangat sulit difahami jika dilihat dari sudut pandang kapitalistik, yang mana modal dan biaya operasional harus lebih kecil dari omset.

"Tani mah moal rugi, asal ulah eureun. Teu ayeuna nya ngke bakal karasa na", begitu pesan orang tua.

Lagi-lagi, kita sebagai pemain baru di usaha tani, lumayan terperangah dengan istilah 'karasa na'. Yap, keuntungan tani diistilahkan dengan kata yang imateril.

Padahal kita melihat keuntungan usaha itu dalam bentuk materi seperti dalam bentuk uang, bertambahnya modal baik lahan atau skala usaha, bahkan mungkin kita menginginkan untung itu jika kebeli mobil, rumah atau lainnya. Keuntungan harus dalam bentuk yang tidak absurd apalagi abstrak heu 😂.

Orang tua kita, menyebut keuntungan itu dengan kata 'karasa na'. Artinya keuntungan dilihat dengan perasaan. Kita lanjut.

"Tani mah ngadenge bedug (Dzuhur), balik ti kebon atawa ti sawah. Teu tinggal solat, geus ashar nangkring (santai bersama keluarga)", kata orang tua.

"Bisa dahar, bisa sakola nyiar elmu. Lain ku sagala aya, tapi sagala mahi", lanjutnya.

Jika dipikir-pikir omongan orang tua ada benarnya. Mereka bisa sekolahkan kita sampai kuliah, padahal cara usaha mereka bisa dibilang sangat ortodoks, jauh dari perhitungan untung-rugi.

Misal orang tua kita tanam jagung, dengan modal uang, tenaga dan lainnya. Kemudian panen, bukannya mendahulukan penjualan agar balik modal dulu. Malah yang dilakukan adalah bagi-bagi tetangga dahulu. "Ameh ka asaan", katanya.


Kemudian saat tanaman gagal diserang hama, ya hama, yang kita deklarasikan sebagai musuh petani. Orang tua bilangnya, "Bae, sodakoh. Maraban makhluk Pangeran (Allah SWT)".

Bagi kita petani muda, yang kadung menggenggam prinsip ekonomi modern ala Adam Smith, disadari atau tanpa disadari, berpandangan bahwa segala sumberdaya yang kita punya harus kita kembangkan. Tentunya BEP jadi target pertama yang harus dikejar!

Dengan kata lain, kapital adalah modal sekaligus tujuan. Agar roda usaha bisa berputar maka harus punya kapital, setelah usaha berjalan harus untung agar bertambah  kapital. Bolak-balik blekok!

Saat itulah kadang kita merasakan toja'iyah, seakan kita hidup diantara dua ideologi yang berseberangan. Udah ah...kita tutup dengan nasihat orang tua lagi.

"Moal rugi, barang dahar seubeuh, tatangga kabagean, nu ku manuk ku hama sodakoh. Da hirup mah moal lana (abadi), sing bisa ngamahikeun nu aya, sing bisa rik-rik nyengcelengan jang di aherat".

Keterangan video:
Rombongan pawai pertanian di peringatan HUT RI di Purwakarta (17/8/2019), membagikan aneka hasil panen yang sebelumnya dijadikan 'dong-dang Agustusan'. Pengunjung pawai hampir berebut.

This post have 0 komentar

Next article Next Post
Previous article Previous Post